Kelompok Punk Antisosial, Kini Lebih Segar

Antisosial, band punl yang lahir dari Gejayan Yogya. (Dezta Aria Wasesa)

BAND Punk Rock asal Yogyakarta, Antisosial, kini jauh lebih menyegarkan setelah empat tahun berdiri. Calvin Bagus Pratama (vokal), Yudha Didot (gitar), Opek AR (gitar), Ade Bois (bass), dan Aksatrya (drum) menjalani pendewasaan yang luar biasa selama empat tahun bermusik bersama. Pencapaian itu bisa dilihat dari kian matangnya musik yang mereka hasilkan dan aksi panggung gila di tiap gigs.

Pendewasaan bermusik Antisosial diuji ketika gitaris dan bassist mereka keluar tahun lalu. Posisi keduanya lalu digantikan Ade dan Opek saat ini. Tak butuh waktu lama keduanya bisa nyetel dengan para personel lainnya. Aksatrya contohnya, mengisahkan dirinya langsung klop ketika kali pertama masuk studio bareng Ade. "Bass sama drum kan kudu kompak, kawin. Tapi pas nyoba sama Ade langsung cocok satu sama lain. Enggak butuh waktu lama," kisahnya ketika ngobrol santai di sebuah hotel bilangan Jalan Affandi Gejayan, Rabu (15/3/2017) malam.

Begitu juga dengan Yudha yang mudah berdiskusi dengan Opek ketika membuat riff-riff gitar untuk lagu-lagu Antisosial. Riff keduanya juga cukup baik ketika dimasukkan dalam single anyar band berjudul "Lawan" yang sudah bisa dinikmati di laman dengar gratis ini. "Soalnya saya sendiri sudah kenal lama sama Opek. Dulu pas SMP pernah bantuin band dia jadi pas bikin riff bareng langsung nyambung. Selain itu kami belajar dari pengalaman selama empat tahun bermusik. Dari mengulik sound dan komunikasi antarpersonel," sambung Didot.

Antisosial adalah band yang bermula dari teman satu tongkrongan. Sejak kecil Yudha, Calvin, dan Aksatrya sering main bersama di sekitar rumah mereka di Affandi. Dari sana, mereka lalu memutuskan membuat band beraliran Punk. Tidak mau sekadar asal main Punk, mereka pun menelusuri sub-genre Punk bagaimana yang cocok dengan karakter mereka: Calvin menyukai Hardcore, Didot Metal, sementara Aksatrya Street Punk.

"Kami nyari musik gimana sih yang cocok sama karakter kami masing-masing. Dapatnya Punk era awal yang menghentak dengan sedikit rock dan berlirik semangat juga perlawanan. Makanya cocok dengan nama Antisosial. Artinya ini bukan kami tidak mau bersosialisasi dalam komunitas sosial, tapi Antisosial ini merujuk pada mereka yang selalu memandang remeh orang-orang dan mengotakkannya dalam kelas-kelas tertentu. Ya seperti itulah," beber Calvin.

Musik Antisosial memang sangat nyaman dan menggoda dibawa pogo baik saat didengar lewat media rekam atau saat live. Ada semangat Punk 70 dan 80-an yang kental dalam karya mereka dengan beat-beat klasik ala Joan Jet. Lirik Antisosial pun dekat dengan keseharian realita. "Kebersamaan" mengisahkan bagaimana kehangatan anak-anak muda Yogya ketika berkumpul bareng. "Penguasa T*i" berkisah tentang bagaimana orang-orang tua memperlakukan anak remaja atau sekolah seenaknya, sesuai dengan pandangan ala Orde Baru (Orba). Simak juga "Kumpul Vespa" yang berkisah tentang komunitas Vespa Yogya yang guyub dengan skena kolektif lainnya dengan musik menghentak.

"Cara kami bikin lagu sih biasanya lirik dulu terus diaransemen bareng-bareng. Rata-rata lagu Antisosial adalah apa yang kami rasakan dan kami lihat di lingkungan sosial," cerita Calvin.

Ada dua target Antisosial menjalani tahun keempatnya bermusik. Didot membeberkan ingin membuat album sebagai dokumentasi karya laiknya band-band lain. Album itu nantinya berkonsep mini bahkan full album. Saat ini Antisosial sudah punya 10 lagu yang siap di-track kapan saja. Sementara itu target kedua adalah membuat konser yang mempertemukan kembali orang-orang yang sudah pernah membantu dan dekat dengan Antisosial selama menahun belakangan.

"Kami sih ingin sekali bikin acara konser yang isinya temu kangen orang-orang yang pernah bantuin Antisosial. Enggak cuma Yogya, tapi juga dari mana-mana, Klaten, Purworejo dan lain-lain. Pokoknya bikin acara seru semacam itu," beber Calvin.(Des)
 

Tulis Komentar Anda