Kelas Heritage, Dekatkan Sejarah Stasiun Maguwo Lama

Para peserta Kelas Heritage saat berfoto di Stasiun Maguwo Lama. (istimewa)

SLEMAN, KRJOGJA.com - Apa sebenarnya penyebab hilangnya jalur kereta dan flyover Staatspoorwegen di Maguwo yang sebenarnya sangat potensial sebagai jalur penghubung wilayah Yogyakarta, atau penyebab bangkrutnya industri gula di vorstenlanden (DIY dan sekitarnya)? Tampaknya pertanyaan-pertanyaan inilah yang muncul dari kegiatan Kelas Heritage yang diinisiasi Komunitas Malamuseum dan Roemah Toea Minggu (12/3/2017) kemarin.

Tak kurang 35 peserta ikut dalam diskusi santai untuk mencari tahu fakta sejarah berdasar literatur-literatur yang dikumpulkan kedua komunitas tersebut. Program Kelas Heritage merupakan salah satu agenda rutin Komunitas Malamuseum dan Roemah Toea untuk memperkenalkan secara luas tentang sejarah menarik di berbagai lokasi heritage di Yogyakarta.

Kali ini kedua komunitas memilih Stasiun Maguwo Lama sebagai lokasi belajar bersama dengan masyarakat. Banyak cerita sejarah yang disampaikan mulai dari keunikan langgam tudor dari bangunan Maguwo Lama dan kaitannya dengan sejarah kereta api hingga penyebab hilangya jalur flyover yang ternyata karena invasi militer Jepang.

Erwin dari Malammuseum kepada KRJOGJA.com saat berbincang Senin (13/3/2017) mengungkap kesengajaan menggagas program Kelas Heritage sekitar setahun lalu. Kali ini ia bersama komunitas Roemag Toea memperkenalkan sejarah Stasiun Maguwo Lama yang ternyata menyimpan pesan sejarah besar di kawasan Yogyakarta dan belum banyak diketahui masyarakat awam.

"Stasiun Maguwo Lama ini adalah stasiun unik yang bangunannya terbuat dari kayu. Istimewanya karena dari seluruh bangunan stasiun di indonesia, hanya 5 yang masih asli berbahan kayu dan salah satunya yaitu Stasiun Maguwo Lama, karena itu kita laksanakan diskusi dan belajar di lokasi itu berkolaborasi dengan Roemah Toea," ungkapnya.

Sementara Hari Kurniawan dari Komunitas Roemah Toea mengimbuhkan di acara yang kemungkinan bakal digelar kembali beberapa waktu mendatang tersebut dibahas tuntas cerita sejarah tentang sejarah perkeretaapian serta manfaat dari konservasi bangunan cagar budaya. "Kami berharap dengan cerita yang menarik dan langsung di lokasi aslinya, masyarakat semakin bisa memahami situasi sebenarnya, pelajaran sejarah pun jadi menyenangkan," terangnya.

Kunjungan ke Rumah Dinas Maguwo Lama, eks Gudang Stasiun Maguwo dan eks pondasi Jalur Staatspoorwegen menjadi menu Kelas Heritage kemarin yang kemudian diakhiri dengan sesi diskusi dan tanya jawab di Stasiun Maguwo Lama. "Kami berupaya memperkenalkan lebih dekat tentang sejarah, jadi kalau memang berniat gabung bisa langsung menuju Facebook di Roemah Toea," pungkasnya. (Fxh)

Tulis Komentar Anda