Dewan Kebudayaan Gunungkidul Lestarikan Gapura Lar Badak

Gapura Lar Badak di depan Bangsal Sewokoprojo Wonosari yang masih dipertahankan. (Foto : Agus Waluyo)

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com - Dewan Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan setempat melakukan sosialisasi tentang filosofi gapura lar badak dan pembangunan podhang ngisep sari. Sosialisasi berlangsung sejak 7 hingga 15 Maret 2017 di 18 kecamatan.

Ketua Dewan Kebudayaan Gunungkidul CB Supriyanto SIP yang ditemui KRJOGJA.com, Minggu (12/03/2019), mengatakan sejak ditetapkannya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY, masyarakat wajib melestarikan berbagai karya arsitektur tradisional, salah satunya gapura. Gapura lar badak merupakan identitas dan ciri khas daerah khususnya DIY untuk menandai batas wilayah atau pintu masuk.

Sedangkan pembangunan podhang ngisep sari mengandung filosofi yang sangat mendalam bagi Kabupaten Gunungkidul. Pengertian podhang ngisep sari adalah mengisap potensi alam berupa tumbuh-tumbuhan, bukit, pantai batu, goa yang bermanfaat bagi masyarakat Gunungkidul.

Filosofi pembangunan podhang ngisep sari dijadikan simbol atau lambang yang diambil dari alam. Simbol ini mulai di masyarakatkan sejak 1990, melalui pemasangan umbul-umbul podhang ngisep sari, meskipun pada mulanya berupa bendera.

Pengertian kalimat podhang ngisep sari adalah burung podhang yang mengisap madu bunga, yang diinterpretasikan podhang, segenap lapisan masyarakat, ngisep usaha untuk memiliki dengan mengambil manfaat dari segenap potensi yang ada. Sedangkan sari yang digambarkan bunga atau madu dari bunga yang diartikan segenap potensi baik flora dan fauna yang ada.

Sementara itu pengertian gapura lar (elar) badak, elar/lar diambil dari sayap burung, sedangkan badak binatang berukuran besar dan kuat. Sayap burung (elar) jumlahnya dua berada di kanan kiri tugu yang disimbolkan badak yang memiliki kekuatan luar biasa.

Gapura lar badak merupakan wujud dan merupakan pesan moral Kraton Yogyakarta yang dimunculkan dalam lambang. Sosialisasi sudah berlangsung di 12 kecamatan dengan narasumber dari Dewan Kebudayaan Gunungkidul masing-masing CB Supriyanto SIP sebagai Ketua Dewan dan Sugeng Pratopo sebagai Wakil Ketua.

Dari sosialisasi yang telah disampaikan mendapatkan respons dari para tokoh termasuk perangkat desa yang mengikuti sosialisasi, sehingga dalam pembangunan gapura atau tugu akan kembali pada gapura lar badak. Sedangkan dalam setiap ada acara resmi, akan selalu dipasang umbulumbul podhang ngisep sari.

”Dalam perkembangannya banyak masyarakat termasuk pemerintah desa kini dalam membangun gapura tidak lagi dengan lar badak, tetapi model pecinan dan lainnya. Demikian pula umbul-umbul beranekaragam,” ujar Supriyanto. (Awa)

Tulis Komentar Anda