Aksi Bela Tawa 123, Guyon Parikeno Njiwit Tanpa Nglarani

Tim produksi Aksi Bela Tawa 123 Sayang Semuanya memberikan keterangan pada media. (Foto: Febriyanto)

KRITIK sosial bernafaskan seni budaya ala Yogyakarta akan dihadirkan Duo KSR, meliputi Kelompok Swara Ratan dan Kelompok Sri Redjeki didukung sepenuhnya Green Network Indonesia (GNI) dalam balutan acara bertajuk Aksi Bela Rawa 123 'Sayang Semuanya' di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, Minggu (12/3/2017) pukul 19.30 WIB. Acara ini terbuka untuk umum dengan mengambil undangan di lokasi kegiatan.

"Melalui acara ini kami ingin mengritisi keadaan dengan kelucuan. Diceritakan dalam dialog dan nyanyian humor," tutur sutradara Aksi Bela Tawa Agoes Kencrot didampingi astrada Ibnu Gundhul kepada wartawan di Saptohoedojo Art Gallery Jalan Laksda Adisucipto Km 9 Yogyakarta, Jumat (10/3/2017).

Untuk membingkai cerita, akan ikut tampil sebagai bintang tamu sejumlah seniman komedian, seperti Anang Batas, Bambang Gundul, Dibyo Primus, Eko Bebek dan lainnya. Melalui pementasan ini pula diharapkan pergerakan komedian yang belakangan ini terasa stagnan bisa mengalir kembali.

"Yogya yang gudangnya seniman, politikus dan beragam profesi lainnya sudah selayaknya ikut membikin kesejukan di tengah atmosfir pilitik yang memanas di Indonesia. Acara ini sebagai bentuk ngumpulke balung pisah. Membangun iklim komedian di Yogyakarta," lanjut Agoes.

Melalui pentas ini pula Agoes mempersilakan masyarakat untuk memberikan interpretasinya masing-masing. Sebab seniman bukan orang yang pandai turun ke jalan, tapi mereka piawai untuk turun ke panggung. "Pastinya mengajak penonton tertawa secara jujur dan dalam konteks yang sebenarnya," tegas Agoes.

Terpisah komedian Anang Batas mengatakan melalui pentas ini akan ada guyon parikeno berupa kritik sosial yang bermaksud njiwit tanpa nglarani. Sehingga akan ada sentilan-sentilan secara lucu namun diharapkan tetap memberi daya sentuh bagi perubahan.

Kesempatan ini menurutnya juga cukup langka karena merupakan proses dan karya lintas generasi yang patut diapresiasi. Pasalnya menurut Anang, ada perbedaan kondisi antara Kelompok Swara Ratan dengan Kelompok Sri Redjeki saat sama-sama eksis di eranya yang terpaut lebih 20 tahun.

"Ini menjadi awal kebangkitan kembali. Harapannya ke depan akan makin banyak kegiatan seperti ini yang mempu membangkitkan kejayaan komedi, baik musik humor maupun drama komedi di Yogyakarta," jelasnya.

Sementara Ketua Umum GNI Transtoto Handadhari menjelaskan melalui budaya inilah pihaknya mengaku akan efektif menyebarkan visi misi tentang lingkungan pada masyarakat, khususnya generasi muda. Sebab selama ini GNI berusaha untuk membangun watak dan karakter bangsa, lebih khusus anak muda yang berwawasan lingkungan. (R-7)

 

Tulis Komentar Anda