Komunitas Klaim Vapor Lebih Aman Ketimbang Rokok

Vapor dinilai lebih aman dibanding rokok tembakau (Raditya)

SLEMAN, KRJOGJA.com - Puluhan ribu orang di DIY mulai beralih dari merokok konvensional untuk kemudian menggunakan vapor atau rokok elektrik. Vapor kini bergeser menjadi sebuah trend gaya hidup yang memiliki pecinta tersendiri di berbagai daerah di tanah air dan mancanegara.

Namun kemudian muncul kekhawatiran apakah vapor yang memiliki prinsip menghisap cairan (liquid) yang dibakar dengan tenaga listrik aman untuk manusia? KRjogja.com mencoba menemukan jawaban dari beberapa pengguna dan aktivis vaporizer yang ada di Yogyakarta.

Sebagian pengguna vapor yang berhasil ditemui KRjogja.com sebelumnya ternyata merupakan perokok konvensional (tembakau) yang kemudian beralih menjadi vapper (sebutan pengguna vapor). Dari pengalaman-pengalaman mereka ditemukan fakta bahwa semuanya merasa jauh lebih 'sehat' saat beralih ke vapor.

Baca Juga : Liputan Khusus Vapor di Yogyakarta

"Saya 2013 mulai vapping karena saat itu saya anfal dan divonis akan 'lewat' kalau tidak mengubah gaya hidup lama yakni berhenti rokok dan olahraga. Karena berat saya 135 kilogram dan sangat sulit berolahraga maka saya pilih berhenti rokok dan vapping, ternyata tiga tahun ini jauh berubah terutama dari nafas dan rasa di badan kalau bangun tidur," ungkap Tata Jamil (26) saat berbincang dengan KRjogja.com.

Sementara Aprilianto salah satu vapper yang juga anggota Paguyuban Vaporizer Yogyakarta (Pavi) juga menyampaikan banyak member di facebook yang mengungkapkan pengalaman saat beralih dari rokok konvensional ke vapor.

"Banyak yang posting foto rongsen paru-paru saat merokok dan berpindah ke vapor, ternyata jauh lebih baik dan mereka melengkapi dengan komentar dokternya, ini benar dan bisa dicek di facebook Jogja Vapor Corner," ungkapnya.

Robertus Bryan, salah satu suplier terbesar vapor di DIY juga menyampaikan sudah banyak jurnal internasional yang menyampaikan dampak positif dari vaporizer.

"Di Inggris, orang ingin berhenti merokok dan pergi ke konseling maka akan diberikan resep vapor yang ditebus di apotek. Takaran kandungan nikotin di liquid yang diawasi, kadarnya akan diturunkan dari waktu ke waktu hingga akhir nol persen dan tak lagi ketergantungan merokok, jadi memang ada kebaikan dari vapor ini," terang aktivis Pavi Yogyakarta ini.

Di DIY, Pavi terus melakukan sosialisasi dan edukasi pada masyarakat tentang segala hal yang berkaitan dengan vaporizer. Mereka juga dengan tegas menyampaikan bahwa bahan-bahan yang digunakan merupakan bahan terstandardisasi dari luar negeri.

"Kami gunakan Vegetable Glycerin (VG) Propylin Glicol (PG) yang terstandarisasi farmasi AS, lalu flavour essence atau perasa juga food standard dan nikotin cair juga hampir semuanya impor sehingga kami percaya keamanannya. Kami bisa pastikan itu karena kami tahu pembuatannya, apalagi yang tak gunakan nikotin karena banyak juga yang demikian," lanjutnya. (Fxh)

 

Tulis Komentar Anda