Vapor Rokok Elektrik yang Sedang Naik Pamor

Salahsatu daya tarik vapor adalah berbagai membentuk asap (Foto : Raditya)

YOGYA, KRJOGJA.com - Rokok elektrik atau vapor tengah naik pamor. Di awal kemunculannya, vapor atau vape digambarkan sebagai pengganti rokok tembakau. Dalam perkembangannya, vapor menjadi gaya hidup atau trend, tentu dengan segala pro kontra yang mengikutinya.

Benda elektrik dengan desain elegan dan cairan (liquid) dengn rasa bermacam-macam mampu menyedot perhatian banyak orang untuk mencoba, bahkan hingga ketagihan.

“Aku awalnya tertarik karena pengen belajar trick buat bulet-bulet asap untuk ikut kompetisi,” ujar Gregorius Oscar yang pernah meraih juara 1 di Vape Trick Competition.

Alasan berbeda disampaikan Didon Wardhana yang menggunakan vapor dengan anggapan vapor lebih sehat dari rokok tembakau. "Awalnya kan dibuat hanya untuk terapi tembakau tapi akhirnya karena vapor jadi barang elektronik yang dicari maka vapor menjadi lifestyle,” katanya.

Baca Juga :

Liputan Khusus : 2013 Vapor Masuk Yogya, Kini Menjamur di Mana-Mana

Liputan Khusus : Sedikitnya Ada 30.000 Pengguna Vapor di Yogya

Liputan Khusus : Komunitas Klaim Vapor Lebih Aman Ketimbang Rokok

Liputan Khusus : Ini Alasan Anak Muda di Yogya Berhenti Pakai Vapor

Liputan Khusus : Ini Kata Dokter Soal Bahaya Laten Vapor

Menurut Oscar, dirinya bisa menghabiskan Rp 800 ribu hingga Rp 2juta dalam sebulan hanya untuk konsumsi vapor. Sumber biayanya pun bermacam-macam.

”Kebanyakan pemakai vapor itu orang-orang dewasa jadi beli dari hasil kerja. Kalau yang masih mahasiswa biasanya nabung nyisihin uang jajan buat beli vape. Atau bisa juga dapet duit dari ngejual vape kita sendiri jadi sistemnya upgrade vape, ada barang baru yang lama dijual. Bisa juga jadi reseller vape,” ujar mahasiswa Amikom tersebut.

Ramadhan Lintang (18), siswa salah satu SMA swasta di Yogyakarta itu tidak lagi menganggap vape sebagai rokok elektrik, melainkan sudah menjadi salah satu hobinya. Menurutnya, vape merupakan bagian dari seni karena asapnya yang dapat dibuat berbagai bentuk.

"Selain rasanya enak, vape itu juga seni mas karena asapnya bisa dibuat untuk trick," ujarnya kepada KRjogja.com, Kamis (09/03/2017).

Berawal dari mencoba-coba pada 4 bulan lalu, kini Lintang sudah tidak lagi dipisahkan dari vape. Bahkan ketika ia sakit pun Lintang masih tetap menggunakan vape. Ia menuturkan, mulutnya akan terasa pahit jika tidak ngevape.

"Waktu itu sakit tapi ya tetap ngevape biar mulut enggak pahit sekalian sambil mengisi waktu kosong," imbuh nya.

Saat ini, Lintang pun dapat menghabiskan liquid 60ml dalam kurun waktu 2 minggu. Hampir seluruh liquidnya itu merupakan produk dari Amerika. Meskipun harga liquid itu mencapai Rp 230 ribu setiap 60ml, ia sudah tidak lagi mempersalahkannya.

"Sebenarnya dengan harga liquid segitu keberatan, apalagi bagi anak perantauan kayak saya. Tapi yaudah mau gimana lagi, namanya juga hobi," pungkas pria asal Lampung tersebut.

Rasa vapor yang bermacam-macam dan banyaknya trik membentuk asap menjadi kenikmatan tersendiri. Vapor dan anak muda mungkin akan semakin susah dilepaskan. Karena berkat vapor muncul beberapa aktivitas baru seperti kompetisi vapor, komunita vapor seperti Vape Squad Jogja, hingga beberapa store khusus vapor. “Vape ini kalau diikutin nggak ada habisnya,” sahut Fadlah Geraldy. (Mg-19/Mg-20)

 

Tulis Komentar Anda