Kris Budiman: Fotografi Bukan Cuma Seni

Diskusi Buku dan Coaching Clinic di IFI Yogyakarta (Hanifah Febriani)

YOGYA (KRjogja.com) – Munculnya banyak fotografer muda dan makin melambungnya dunia fotografi, membuat fotografi bukan barang mewah lagi.

"Semua orang bisa motret,” ujar Kris Budiman dalam Diskusi Buku dan Coaching Clinic Fotografi 'Merekam Kisah Membuka Mata', Kamis (09/03/2017) di Auditorium IFI/LIP Yogyakarta.

Semakin boomingnya dunia fotografi menimbulkan pergeseran makna. Jika dulu untuk menghasilkan foto bagus perlu usaha keras dan waktu yang tidak sebentar, kini cukup sentuh layar smartphone dan edit dengan aplikasi sederhana, mampu menghasilkan foto yang bagus. “Itulah bedanya tukang foto dengan fotografer,” tekan Kris Budiman, seorang budayawan, kritikus sastra, dan dosen UGM.

Menurutnya, bahwa fotografi bukan sekadar seni. Fotografi juga layak memikirkan gejala sosial yang ada. “Perlengkapi diri kita dengan software, seperti sosiologi, sociopsycology, dan lainnyal. Kira-kira foto ini bicara apa ya ke saya? Foto yang cerdas, sudah pasti fotografernya cerdas dan kritis,” terang dia.

Menghargai karya sama dengan menghargai senimannya. Itulah awal mula fotografi disebut seni. Padahal awalnya, fotografi lahir sebagai media. Kebanyakan fotografer pemula akan sibuk mengurusi sisi seninya, namun lupa bahwa makna dalam foto tersebut tidak dapat sampai ke penikmat.

“Tantangannya sekarang, bisa nggak kita membebaskan fotografi dari seni?” ujar Kris Budiman. (MG 19)

Tulis Komentar Anda