Flohmarkt Fest Pertemukan Band Lintas Genre

Penampilan Summerchild di panggung Flohmarkt Fest (DESTA ARIA WASESA)

AJANG Flohmarkt Fest yang digelar di Parkir Mall Lantai 2 Lippo Plaza, Sabtu dan Minggu (4-5/03/2017) sukses besar memadukan banyak elemen simbol anak muda kekinian. Puluhan stand di sepanjang area parkir merepresentasikan elemen Fashion dan kuliner sehat. Lalu ada juga lapak yang berisi koleksi komunitas yang bergerak di bidang musik, kriya, dan karya rupa. Panggung sederhana di bagian barat merepresentasikan musik-musik asyik karya band lokal.

Panggung tidak sekadar jadi ajang unjuk karya musisi. Di panggung itu ajang tahunan ini mempertemukan band lokal Yogyakarta lintas genre. Ada metal, trash metal, rock, folk, pop, post-rock, instrumental, sampai psychedelic. Ratusan pengunjung pun dihibur pertunjukkan musik yang kaya selama menikmati budaya popular di ajang ini.

Sabtu malam, panggung dipanaskan sejak sore. Band Yogya pengusung Speed Metal, Tiger Paw mengokupansi panggung dengan lagu-lagu cadas era 80 dan 90-an. Rotorheadm band cover lagu-lagu Heavy Metal Motorhead makin memanaskan suasana sore hari di Flohmarkt. Dentuman distorsi yang tak kalah berat dengan Tiger Paw. Pasukan perempuan berbaju hitam bernama Lilithmom naik panggung setelahnya. Penampilan mereka tak kalah gila dengan menyajikan lagu-lagu rock bersemangat ala Joan Jet.

Jelang malam, panggung makin ramai. Pengunjung yang sudah menenteng tas belanja dan sembari memakan makanan yang disajikan di stand makin banyak di depan panggung. Jonoterbakar, duo akustik yang menggarisi genre mereka sebagai Akustik Heavymental tampil percaya diri. Nihan Lanisy (Jono) dan Nur Hidayat membawakan karya-karya dalam album Dunya Akhirat yang rilis 2015 dengan riang. Lirik-lirik nakal yang tersebar di tiap lagu membuat penonton senyum bahagia.

Usai Jonoterbakar, band eksperimental, Summerchild memberi kepuasan telinga dengan maksimal. Suara-suara aneh dari gitar Dhandy meruang lalu makin menarik banyak orang mendekat ke panggung lalu rata-rata merekam pertunjukkan mereka selama 30 menit. Genre Grunge diwakili Shoppinglist di atas panggung yang diakhiri Afapika dengan Rock'N Roll ala Kulashaker.

Di hari kedua, panggung dibuka Band Punk Hell Driver dengan aksi panggung memukau. Solois yang tengah naik daun, Umar Haen membawa emosi penonton turun dengan lagu-lagu akustik seperti "Kisah Tentang Baju". Mahesa Ahaening, sound engineer sekaligus Ketua Pengelola Jogja Audio memperdengarkan kualitas sound yang mumpuni usai Umar.

Band pengusung pop 70-an, Alur Maju menandai sesi kedua pertunjukkan dengan lagu-lagu romantis yang membuat penonton tak mau melepas pasangan masing-masing. Band asal Malang, Monohero, juga ikut berpartisipasi. Totalitas duo psychedelic ini dibawa melalui tampilan visual tiga dimensi yang cukup memanjakan mata sementara telinga dan hati ikut disantuni lewat musik psychedelic yang menyejukkan. Robbrs pun menjadi penutup sempurna dalam ajang dua hari tersebut.(Des)

 

Tulis Komentar Anda