Kisah Serangan di Museum Benteng Vredeburg

Drama teatrikal di halaman depan Museum Benteng Vrederburg Yogyakarta (Yudho Priambodo)

YOGYA (KRjogja.com) - Suara ledakan dan letusan senapan keras terdengar di halaman Museum Benteng Vrederburg, Minggu 5 Maret 2017. Bunyi senjata tersebut dibarengi dengan teriakan dari pejuang-pejuang yang merangsek mengepung pertahanan Belanda.

Adegan tersebut muncul dalam teatrikal Serangan Umum 1 Maret 1949 di halaman Benteng Vrederburg, Minggu (5/03/2017). Dibanding tahun lalu, teatrikal Serangan Umum 1 Maret 1949 lebih ramai. "Acaranya lebih meriah dibanding tahun kemarin. Soalnya tahun kemarin tidak ada kuda dan pesawatnya," kata Erni, salah satu pemeran Teater Drama Kolosal Serangan Umum 1 Maret kepada KRjogja.com.

Kegiatan yang sudah diselenggarakan rutin selama 5 tahun ini bukan hanya diikuti oleh komunitas pecinta sejarah dari Yogyakarta, namun juga kota lain. “Ini dari banyak komunitas, dari Jakarta, Semarang, Malang, Medan, Bandung, Surabaya," kata Satrio, salah satu anggota Komunitas Rodeburg pegiat sejarah dari Surabaya yang ikut serta dalam pementasan drama teatrikal.

Menurut Satrio, ia dan rekan-rekannya mendapat undangan dari pegiat sejarah Yogyakarta 1945 yang mengadakan acara ini untuk bergabung dalam pementasan drama teatrikal yang rutin diselenggarakan setiap tahun. Drama ini merupakan gambaran dari Serangan Umum 1 Maret 1949.

Saat itu pejuang menguasai kota Yogyakarta selama 6 jam melalui serangan kilat. Meski berlangsung singkat, namun peristiwa tersebut membuka mata dunia bahwa Republik Indonesia masih ada.

Sebagai pencinta sejarah, Satrio berharap masyarakat bisa mengambil nilai-nilai perjuangan yang ada dalam drama teatrikal yang dipertunjukan. "Harapannya agar masyarakat sadar akan ceritanya akan sejarahnnya sendiri, kedua agar lebih bisa menghargai nilai-nilai perjuangan para pahlawan, yang ketiga bisa lebih mendedikasikan untuk mengembangkan sejarah kedepannya. Lebih ke aspek edukasi," pungkas Satrio.

Teatrikal Serangan Umum 1 Maret 1949 yang berlangsung sekitar 10 menit tersebut sekaligus sebagai pelestarian budaya yang bisa jadi jembatan untuk mengakhiri apatisme masyarakat Indonesia dalam ruang lingkup sejarah. Terutama dalam menanam nilai-nilai kebangsaan dan semangat juang bagi penerus masa depan bangsa.

“Kami dari Dinas Kebudayaan DIY, pada dasarnya ingin memfasilitasi kegiatan seperti ini dalam rangka untuk memperingati kesejarahan bangsa kita, terutama hari ini serangan umum 1 Maret,” tutur Erlina Hidayati selaku Kepala Seksi Pembina dan Pengembangan Kesejarahan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta saat memberikan kata sambutan sebulum dimulainya drama teatrikal serangan 1 Maret. (Mg-21)

Tulis Komentar Anda