Matahari Jingga Lagukan Suluk Linglung Sunan Kalijaga

Lagu-lagu Matahari Jingga bisa dinikamti di Souncloud dan Spotyfy. (ISTIMEWA)

SASTRA Jawa tak sekadar kaya cerita dan semiotika. Ia kaya ilmu pengetahuan dan tuntunan mengarah kepada kebaikan lalu kebajikan. Satu dari sekian tuntunan itu dapat ditemukan dalam Kitab Duryat karya Sunan Kalijaga. Di kitab itu Sunan Kalijaga memaknai perjalanan hidup menuju makna hakekat. Demikian jalan tasawuf, di mana hakekat hidup yang utama adalah penyatuan yang didapat dari perjalanan spiritual.

Kitab ini menginspirasi banyak orang. Dari kitab itu seorang pujangga dari Surakarta bernama Iman Anom menggubah sebuah karya sastra bertajuk Suluk Linglung Sunan Kalijogo pada 1884. Konon Suluk Linglung merupakan salah satu karya sastra Sunan Kalijaga yang sampai saat ini masih jarang ditemukan diliteratur Jawa. Buku ini merupakan terjemahan dari kitab kuno warisan dari sepuh Kadilangu Demak, R.Ng. Noto Subroto kepada ibu R.A.Y Supratini Mursidi, yang keduanya adalah anak cucu Sunan Kalijaga.

Suluk Linglung Sunan Kalijaga merupakan salah satu dari sekian ajaran yang digubah Iman Anom. Tak hanya Iman Anom, Wahyu Octavianto dan Doni Kurniawan, dua personel band Matahari Jingga sejak 2014 lalu tergerak  membuat sebuah lagu dengan mengutip syair Suluk Linglung Sunan Kalijogo. Lagu tersebut mereka beri judul Suluk Kanjeng Sunan.

Bersama Aan (gitar), Arief (bass), Yudho (drum) mereka mengekspresikan Suluk itu lewat genre Pop dengan musik yang cukup ringan namun berkualitas. Mereka mengambil beberapa bagian Suluk yang dimasukkan dalam tiga part lagu: Bait, reff, dan narasi. Bagian bait mereka ambil dari Bramara Ngisep Sari (Pupuh 1); Dhandhanggula, bait dua dan reff berlirik 

"Kanugrahane Hyang Widhi/ambawani kasubdibyan pangawasane pan dene/kadigdayan kaprawiran/sakabeh rehing yuda (kanugrahan Tuhan Allah, meliputi dan menimbulkan keluhuran budi, adapun kekuasaan-Nya menumbuhkan kekuatan luar biasa dan keberanian, serta meliputi segala kebutuhan perang (ujian hidup) diambil dari Kasmaran Branta (Pupuh 2) Asmaradana yang Berlanjut ke bagian Narasi.

"Suluk secara harfiah berarti menempuh (berjalan). Secara spiritual ber-suluk bermakna perjalanan diri seumur hidup demi mencapai kesucian hati untuk mengenal diri dan Tuhan. Lagu ini kami rekam di Satria Piningit Studio dengan Engineering:Sasi Kirono dan Artwork Hari Mei Harso. Lagu ini juga sudah bisa dinikmati di laman dengar soundcloud atau spotyfy," jelas Doni.(Des)

 

Tulis Komentar Anda