BAKTI PERTAMA KLINIK APUNG SAID TUHULELEY

Melayani, Mengobati dan Mengenalkan Budaya Sehat

Saat akan berangkat menuju Saparua. (Foto : Fadmi Sustiwi)

MATA Ibu Hayati Tatupoho terasa panas. Ada yang bergolak di dadanya, meski selarik  senyum mengembang di wajah. Kehadiran ‘sosok’ Said Tuhuleley membuka kenangan lama. Beberapa tahun lalu, ia harus melahirkan di kendaraan saat hendak menuju puskesmas. “Sangat jauh untuk mendapatkan bidan dan yang membantu melahirkan. Itulah sebab anak mama ada kasih nama Oto,” ungkap Hayati.

Said Tuhuleley adalah nama klinik apung milik Muhammadiyah dan LazisMu. Nama tersebut  untuk mengenang  salah seorang kader terbaik yang telah tiada, sekitar dua tahun silam. Dalam bakti pertama, beberapa awak yang bersama dalam kapal berbasis yacht sempat merasa khawatir karena ketika mendekati Pulau Saparua setelah sekitar satu jam berlayar, hujan angin cukup besar. Namun kehadiran yang sudah ditunggu-tunggu masyarakat Saparua daripada harus 18 km berjalan ke puskesmas, seketika memupus kekhawatiran. Menggunakan spanduk panjang dokter dan paramedis turun dan membawa perlengkapan yang dibawa, untuk pengobatan gratis.

Kehadiran Klinik Apung Said Tuhuleley di Saparua adalah bakti putra seorang putra daerah ke tanah kelahiran. Dengan membawa 3 dokter, 5 perawat dan seorang apoteker, klinik tersebut melakukan aksi perdana di Saparua dan Haruku, Maluku. Perjalanan dari pelabuhan Yos Sudarso Islamic Centre yang dimulai pukul 09.00 WITA menurut Direktur Utama LazisMu Andar Nurbowo menargetkan 200an  orang di setiap titik, Sabtu (25/02/2017).

Untuk tahap pertama ini, LazisMu bekerjasama dengan Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ) Sukapura, Cempaka Putih dan Pondok Kopi. “Namun sebagai klinik milik Muhammadiyah dan LazisMu, kami berharap dan idealnya kelak semua Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) yang memiliki fakultas kedokteran mengirimkan dokter mudanya berbakti di sini,” tambah pemimpin perjalanan klinik apung Syafii Latuconsina.

Tidak sekadar meningkatkan akses kesehatan bagi masyarakat pulau-pulau kecil. Namun ada secuil harapan jangka jauh untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terpencil tentang hidup sehat. Dan tugas para tenaga medis ataupun paramedic yang mengikuti bakti social tersebut memang tidak sekadar mengobat orang-orang yang datang ke klinik apung karena sakit. Namun seperti disebut Syafii, juga memperkenalkan budaya hidup bersih dan sehat.

***

Selain pendidikan, concern Muhammadiyah melayani kesehatan umat diwujudkan lewat pembentukan Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) hampir seabad silam. Dan minimnya fasilitas kesehatan di Kawasan Timur Indonesia terutama di pulau-pulau kecil inilah yang mengusik nurani Muhammadiyah untuk berbuat lebih banyak lagi. Karena melihat masih banyak di antara  warga bangsa yang belum terlayani dengan baik, kesehatannya.

Namun mudah untuk mendirikan fasilitas kesehatan di pulau-pulau kecil tersebut. Tidak sekadar masalah perizinan semata. Penduduk yang sedikit, lahan yang tidak luas juga jarang ada dokter yang bersedia ditempatkan di kawasan tersebut. “Klinik apung menjadi salah satu solusi,” ujar Ketua PP Muhamamdiyah Hajriyanto yang di antaranya membidangi LazisMu.

Kapal berbahan dasar fiberglass berukuran 33 meter x 3,5 meter ini akan memberikan layanan  kesehatan di Maluku dan Papua. Dari  Saparua, hari pertama melanjutkan ke Haruku, 30-an menit perjalanan laut. Warga yang menunggu segera tertib mengantri untuk diperiksa. Entah kapan lagi, Klinik Apung Said Tuhuleley akan hadir lagi dan memberikan layanan gratis kembali. (Fsy)

Tulis Komentar Anda