Keceh nDeso Sungai Walikan Menantang

Arung jeram mini Sungai Walikan di Desa Wonorejo, Jatiyoso. (Foto: Abdul Alim)

KARANGANYAR (KRjogja.com) - Bagi penyuka tantangan berpetualang, arung jeram mini di Desa Wonorejo, Jatiyoso dapat menjadi salah satu obyek yang pantas dijajal. Pengelola tempat wisata teranyar di Kabupaten Karanganyar itu melabelinya 'Keceh nDeso Sungai Walikan'.  

Terdapat enam paket Keceh nDeso yang disesuaikan jarak tempuh tiap paket mulai 5 kilometer sampai 1 kilometer alur sungai itu di Dusun Kuryo. Pegiat desa rintisan wisata ini cukup krestif memberdayakan pemuda desa untuk menjadi pemandu susur arus. Peralatan keselamatan sederhana tersedia seperti deker tangan, deker kaki dan helm. Pesan pemandu, jangan sekali-kali melepas peralatan keamanan itu saat ban karet meluncur di alur terjal berhalang rintang.  

KRjogja.com berkesempatan mencoba Keceh nDeso yang berlokasi sekitar 200 meter dari gedung serbaguna Desa Wonorejo. Untuk menjangkaunya bisa berjalan kaki dari pos pemandu atau menaiki sepeda motor namun perlu ekstra berhati-hati di jalur setapak menuju sungai. Saat itu, KRjogja.com mencoba setengah paket dua berdurasi 30 menit. Derasnya arus sungai mampu mendorong dua pengarung jeram mini di atas ban karet.
Prosedur standar pengamanan lainnya diterapkan, yakni mengaitkan ban karetnya dengan milik tamu untuk mencegahnya terempas. Tubuh terantuk batu atau kulit tergores ranting dianggap biasa selama adaptasi di medan ekstrem itu. Setelah mampu beradaptasi, biasanya pengarung jeram mini menghindari punggung dan bagian pantat menghantam bebatuan. Keasyikan menaklukkan medan ditambah rasa nyeri melengkapi pengalaman berwisata air Keceh nDeso Sungai Walikan. Di paket-paket lain, pengunjung dipersilakan menjajal jalur hiking dan air terjun nDas Londo.

"Ini sih namanya kapok lombok. Awalnya jera, tapu kalau diajak ke sini lagi pasti mau. Nyeri juga terantuk batu kali. Mau mencoba paket 1 yang jauhnya enam kilometer," kata Aditya Sadewa, seorang pengunjung desa wisata Wonorejo kepada KRjogja.com.
Lurah Wonorejo, Sudrajat mengatakan, ia memilih istilah Keceh nDeso karena sesuai konsep kesederhanaan.

"Kalau istilah tubing, takutnya pengunjung agak kecewa. Sebab peralatan kami dan SDM masih sederhana dan baru permulaan. Sebut saja ini Keceh nDeso," katanya.

Desa ini tengah menggerakkan seluruh potensi untuk memperkenalkan pesona wisatanya. Diantaranya taman gardu pandang, kuliner jaraktowo dan jelajah heritage. Sudrajat mengatakan harga paket-paket wisata di desanya sangat terjangkau. (R-10)

 

Tulis Komentar Anda