Longsor Purbalingga, 2 Rumah Hilang, Jalan Desa Putus

Foto: KR

PURBALINGGA (KRjogja.com) - Tanah longsor yang terjadi di Dusun Karangwuni, Desa Sirau, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah pada Minggu (19/2) petang sekitar pukul 18.00, mengakibatkan dua rumah hilang. Bencana itu diduga akibat guyuran hujan deras yang turun sejak Minggu sore hingga Senin dini hari (20/2).

Material longsoran juga menimbun tiga unit sepeda motor dan satu kandang ayam milik warga setempat. Ratusan hektare sawah terkubur. Jalan utama penghubung Desa Sirau, Kecamatan Karangmoncol dan Desa Danasari, Kecamatan Karangjambu putus total karena tertutup longsoran tanah.

"Beruntung tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut," ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purbalingga, Satya Giri Podo kepada wartawan di lokasi kejadian, Senin (20/2). Dua rumah yang hilang masing-masing milik Sugiyanto (45) dan Teguh (30). Beruntung saat kejadian penghuni rumah sudah mengungsi, sehingga tidak ada korban jiwa. Sedangkan kandang ayam milik Darsono (45).
Diungkapkan Satya, Desa Sirau yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Pemalang, merupakan desa yang rawan terjadinya tanah longsor.

Kades Sirau Hendri Sutrisno menuturkan, musibah terjadi sekitar pukul 18.00 ketika hujan turun cukup deras. Warga sudah merasakan tanda-tanda akan terjadi tanah longsor. Keluarga Sugiyanto dan Teguh yang rumahnya paling rawan sempat mengungsi sebelum ribuan meterkubik tanah menerjang rumah mereka. "Longsornya tidak seketika, tapi terjadi beberapa kali sampai akhirnya kedua rumah dan kandang ayam lenyap disapu material longsoran," ujar Hendri.

Hendri menambahkan, sejak satu tahun lalu terdapat retakan tanah di bagian hulu Sungai Wuni yang mengalir di desa Sirau. Sebuah jembatan penghubung antarkecamatan di Desa Batur, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung, roboh akibat pondasi tergerus banjir. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa sekitar pukul 16.30 itu. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Temanggung, Agus Sudaryono mengatakan, hujan deras terjadi di hulu dan sekitar Sungai Mengor yang membuat arus air meningkat dan terjadi banjir.

Jembatan dengan lebar 4 meter, panjang 13 meter dan tinggi 10 meter tersebut menghubungkan Dusun Batur, Desa Kaloran dengan Dusun Rowo Rejosari atau Dusun Bembret, Desa Tlogopucang, Kecamatan Kandangan. Kini akses jalan putus total, kendaraan dan pejalan kaki tidak dapat melintasi.

Koordinator Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIY Joko Budiono mengungkapkan, hujan es masih berpotensi terjadi di wilayah DIY khususnya Kabupaten Sleman. Pada Minggu (19/2) siang hingga sore muncul awan Cumulonimbus (Cb) khususnya di Sleman. Di puncak awan Cb suhunya sangat dingin. Bahkan di bawah 0 derajat Celsius. Hal ini membuat wujud awan terutama di bagian puncak dalam bentuk kristal-kristal es.

"Kristal es tersebut bisa jatuh bersama hujan yang disertai petir dan angin kencang. Awan Cb inilah penyebab hujan es," kata Joko.

Saat ini menurut Joko, pembentukan awan-awan konvektif di wilayah DIY masih berpotensi muncul. Terutama di siang hingga sore hari. Mengenai lokasi yang berpotensi terjadi hujan es, tergantung awan Cb berada di mana. Bila muncul di wilayah tersebut, maka berpotensi hujan lebat yang disertai petir, angin kencang dan hujan es.

BMKG DIY memprediksi dalam beberapa hari ke depan wilayah DIY masih berpotensi terjadi hujan lebat di atas 50 milimeter perhari, petir dan angin kencang di atas 45 kilometer perjam. (Rus/Osy/Awh)

Tulis Komentar Anda