Safrina, Difabel Juga Mampu Berorganisasi dan Tuntaskan S2

Safrina Rovasita (Lintang Fajar Nugrahani)

SETELAH merasakan asiknya bekerja, Nina tertantang untuk mengambil S2. Ia akhirnya kuliah di S2 jurusan Bimbingan Konseling Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Saat ditanya mengapa memilih jurusan itu, Ia menjawab tertarik lantaran ada kesamaan antar Bimbingan Konseling (BK) dan Pendidikan Luar Biasa (PLB).

Selain itu juga banyak ilmu psikologi yang akan ia dapatkan dan waktu yang fleksibel. Lantaran sudah bekerja dan tidak bisa meninggalkan murid, Nina hanya berkuliah di hari Sabtu dan Minggu. “Yang kasihan ibuk, nggak pernah istirahat. Tiap hari non-stop antar jemput,” tambah Nina yang bercita-cita ingin bisa naik motor.

Menjadi mahasiswa S2 Nina mengaku sangat senang. ”Dosennya udah canggih. Tugas bisa dikirim lewat email. Masalah di tempat kerja juga bisa diangkat untuk tugas,” ujar dara yang mengaku akan menerbitkan buku biografinya sendiri tahun ini.

Tak cukup dengan kegiatan akademik, pada tahun 2012 Nina bergabung di komunitas  WKCP (Wahana Keluarga Celebral Palsy). Di komunitas tersebut Nina mengaku senang karena bisa aktif berorganisasi dan membuatnya lebih bersyukur.

“Celebral Palsy itu bisa berupa gangguan motorik, kecerdasan dan epilepsi. Saya hanya kena yang motorik saja. Waktu gabung di WKCP banyak anak-anak yang lebih parah,” tuturnya.

Salah satu kegiatan WKCP yang menurut Nina sangat berkesan adalah saat mengadakan seminar dan penelitian mengenai meminimalisir adanya penderita Celebral Palsy baru.

Diceritakan Nina, saat itu mereka mengadakan survey. Dari 112 orang ternyata yang sudah pernah pemeriksaan torch hanya 48 orang. Dari 48 orang itu ternyata yang terkena virus torch ada 40 orang. Virus torch adalah salah satu penyebab Celebral Palsy, dan bisa menyebabkan penyakit yang lain. Untuk itu sangat disarankan bagi pasangan yang akan menikah agar periksa torch terlebih dahulu.

Sayangnya pemeriksaaan ini sendiri mahal, berkisar Rp 2.000.000,00. Survey tersebut ternyata berhasil membuka mata beberapa lembaga seperti Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan untuk mengadakan survey ulang, “Kok bisa ya dari 112 orang yang pernah periksa cuma 48 orang,” ujar Nina.

Akhirnya pada bulan Agustus kemarin diadakan pemeriksaan torch gratis untuk 500 orang kriterianya berumur 36 tahun kebawah, sudah menikah, punya anak difabel, dan berKTP DIY.  “Seneng banget sama acara itu. Karena torch sebenarnya bisa dicegah, kalau udah kebacut hamil juga bisa diterapi,” tambah Nina.

Nina bepesan, agar anak muda jangan patah semangat dalam berprestasi. Khusunya bagi penyandang difabel agar jangan menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk menyerah.

“Biarkan saja kalau kita dibully yang penting kita jangan membully,” ujar Nina yang bercita-cita mendirikan sekolah inklusi, dimana masyarakat umum dan difabel bisa bersatu. (Lintang Nugrahani / Lucia Yuriko)

Tulis Komentar Anda