Meski Tiga Besar Terpandai, Safrina Tidak Lulus SMA

Safrina saat mendampingi anak didiknya (Foto : Lintang Fajar)

PERLAKUAN berbeda ia terima sewaktu menjalani bangku sekolah di SMA Gama Cendekia. Tidak ada yang mau berteman dengan Nina kala itu. “Satu kelas nggak nyapa saya tapi ya biarin aja.”

Bisa jadi kejadian ini berkah bagi Nina. Walaupun ia dikucilkan, hobinya menulis menghantarkannya aktif di Forum Lingkar Pena yang masih ia lakoni hingga saat ini. Akademiknya pun tetap bagus. Tiga besar masih juga tidak lepas dari genggaman Nina.

“Sayang sekali, sewaktu ujian nasional kelas XII tidak ada pendamping. Padahal Ibu saya sudah meminta ke sekolah.” Alhasil Nina kesulitan  memasukkan jawaban di lembar ujian. Untuk meminta tolong juga ia tidak bisa.

“Bukan apa-apa, pengawas kan tidak tahu kondisi saya,” tambah Nina yang mengaku pertama kali masuk koran saat menjuarai kompetisi menulis pengalaman saat bencana Gunung Merapi yang diselenggarakan Harian Kedaulatan Rakyat (KR).

Benar saja, ia tidak lulus UN. Ia sempat tidak terima, tapi tetap bahagia lantaran mengetahui bahwa nilainya sebenarnya bagus. “Teman ada yang bilang, kalau pintar bagi-bagi dong. Waktu ujian saya persilahkan dia untuk nyontek, tapi jangan jawil-jawil nanti dikira saya yang nyontek. Ternyata waktu pengumuman nilainya bagus, walaupun saya tidak lulus tapi artinya nilai saya bagus.” tambah Nina sambil tersenyum.

Lantaran ia tidak lulus, Nina pun mengambil ujian paket C dan diterima kuliah di UNY jurusan Pendidikan Luar Biasa. Saat kuliah Nina tetap kesulitan dalam pembelajaran karena susah untuk menulis. Jika saatnya ujian, Nina akan mencari relawan untuk membantu.

“Tapi ada dosen yang nggak mau saya ujian pakai relawan. Niai ujian saya selalu C di mata kuliah yang diampu dosen tersebut walaupun sehari-hari di kelas tugas saya yang dijadikan contoh untuk teman-teman. Saking gemesnya saya protes. Ternyata dosen ingin saya pakai laptop,” ujarnya.

Setelah kejadian itu, Nina tidak langsung beli laptop. Hal itu disiasati dengan pinjam laptop teman tapi dengan konsekuensi harus sudah di print tepat waktu. “Pokoknya dulu harus sisakan waktu 10-15 menit. Kalau udah selesai saya langsung bawa lari untuk di print,” kenang Nina, yang akhirnya memutuskan pakai laptop sejak semester 5.

Setelah lulus S1, Nina kemudian mencoba melamar kerja beberapa kali namun gagal. Ia akhirnya diterima bekerja sebagai guru yang mengampu semua mata pelajaran untuk SD di SLB YAPPENAS. Menjadi guru tentu tantangan tersendiri baginya. Ia bekerja setiap hari Senin-Jumat jam 7.00 – 14.00. Walaupun capek, tapi Nina mengaku senang bertemu dengan anak-anak yang lucu, baik, ngeyel, dan terkadang manja.

“Pernah waktu itu saya ke kamar mandi, ternyata laptop saya diangkat dari tas lalu dibanting sama murid. Waktu balik saya langsung ngecek laptop, ternyata yang dulunya laptop itu hampir rusak kok malah jadi bagus lagi. Eeee.... anaknya malah nangis. Ternyata bukan nangis karena takut dimarahi, atau kejatuhan laptop. Dia nangis karena cemburu gurunya kok malah lebih merhatiin laptop daripada dia. Wah pokoke aku ngguyu kemekelen,” ujar Nina sambil menunjukkan foto anak tersebut kepada wartawan krjogja.com. (Lintang Fajar/Lucia Yuriko)

Baca Juga :

Safrina Rovasita, Dianggap Gila Tapi Mampu Selesaikan S2

Safrina, Difabel Juga Mampu Berorganisasi dan Tuntaskan S2

Tulis Komentar Anda