Safrina Rovasita, Dianggap Gila Tapi Mampu Selesaikan S2

Safrina dengan penghargaan yang pernah diterimanya (Lintang Fajar Nugrahani)

SAFRINA Rovasita (31) pernah dianggap gila. Pernah pula dianggap memiliki keterbelakangan mental. Kondisi Nina -panggilan Safrina- yang tidak biasa membuat ia sering dihina, ditolak bersekolah, hingga sulit mendapatkan pekerjaan.

“Saya mengidap Cerebral Palsy,” cerita Nina kepada KRjogja.com dalam sebuah perbincangan sore hari di rumahnya, kawasan Minomartani Yogyakarta belum lama ini.

“Syaraf motorik saya terganggu sehingga gerak tubuh dan bicara saya berbeda,” tambahnya.

Berjalan dengan tertatih, bicara terbata dan sulit menggenggam barang. Tak jarang ia harus mengulangi ucapannya agar lawan  bicara paham. Pun begitu ia tidak hanya diam menerima keadaannya.

Ia tetap bekerja, melanjutkan kuliah ke S2 dan aktif di kegiatan kepenulisan serta sosial. Peraih She Can Award dan Liputan 6 Awards ini tumbuh menjadi pribadi yang pantang menyerah. Bagi Nina difabilitas bukan alasan untuk tidak berprestasi.

Berbagai pengalaman dihina dan direndahkan sudah pernah Ia terima. Pernah ada satu kejadian yang masih terkenang hingga kini. ”Dulu waktu kecil saya suka sepedaan. Suatu hari waktu mau lewat rumah teman, saya disuruh nunggu bapaknya masuk rumah dulu. Temenku bilang ‘Mbak-mbak tak ceritani. Jare bapak kamu tu gila’ tapi temanku itu nggak jauhin aku. Dari situ aku mikir kalau anak kecil lebih bisa menerima orang difabel. Mereka tidak terjebak judgment,” cerita Nina.

Dulu ketika Nina mulai bersekolah di SLB, ia hanya mendapat pelajaran membaca sederhana. “Ba-bi-bu-be-bo, lima tahun enggak ganti-ganti. Saya bosan,” wanita yang baru saja wisuda S2 ini kemudian meminta Ibunya untuk membelikan buku paket pelajaran. “Pokoknya saya mau belajar banyak hal seperti teman-teman yang lain.”

Mulai dari situ ia belajar keras hingga pada kelas lima dan enam SD ia diperbolehkan mengikuti ujian dengan standar soal sekolah umum. Nina  ingin masuk sekolah umum seperti kebanyakan orang.

Lulus dengan rata-rata nilai 8,5 ternyata tidak membuat Nina dengan mudah diterima di SMP Negeri. Difabilitasnya jadi alasan. Beruntung kemudian ia diterima di SMP N 2 Depok. “Sebelum masuk saya ditanya sama Kepala Sekolah, bagaimana nanti kalau diejek sama teman-teman. Saya jawab, saya sudah biasa dihina.”

Masa SMP ini menjadi pengalaman yang paling berkesan bagi Nina. “Hari pertama sekolah ketika upacara kepala sekolah panggil saya untuk maju ke depan. Ini Safrina, teman kita yang difabel. Kalau mau ejek silahkan, dia sudah biasa. Justru karena kepala sekolah bilang begitu, tidak ada yang berani ejek saya,” papar Nina yang semasa SMP selalu masuk tiga besar.

Barulah dua tahun kemudian ia tahu bahwa kepala sekolahnya membuat peraturan, siapa yang mengejek atau menjauhi Nina akan diberi hukuman. Nina sempat tidak terima. Pikirnya, untuk apa hubungan pertemanan dipaksa. Akan tetapi lambat laun ia paham juga, kalau tidak dipaksa mungkin teman-temannya juga akan sulit terbiasa berteman dengannya. “Negara seharusnya  mencontoh kepala sekolah saya,” ujarnya. (Lintang Fajar N/Lucia Yuriko)

Safrina Rovasita : Meski Tiga Besar Terpandai, Tidak Lulus SMA

Safrina Rovasita : Difabel Juga Mampu Berorganisasi dan Tuntaskan S2

Tulis Komentar Anda