Bersepeda, Gaya Hidup Urban yang Harus Dikembangkan

Bersepeda menjadi pilihan masyarakat urban dewasa ini (Polygon)

MACET menjadi salah satu masalah utama yang sulit dihindari di beberapa kota besar di Indonesia. Tercatat Indonesia memiliki estimasi time index hingga 40.58 menit dan traffic index rate 177.91 serta menempati urutan ke-11 sebagai negara termacet di dunia pada pertengahan 2015, tepat di bawah Brazil dan Argentina.

Kondisi tersebut ditambah dengan tuntutan akan mobilitas tinggi, menggiring masyarakat urban beralih ke moda transportasi sepeda. Pertimbangan praktis dan mampu melibas kemacetan dengan cepat, gaya hidup go green, hemat energi, terjangkau, sekaligus faktor kesehatan yang mendasari kegiatan bersepeda menjadi alternatif menarik bagi masyarakat urban.

Kegiatan bersepeda kemudian berkembang tidak hanya sebagai pilihan hobi, namun juga lekat dengan aktifitas sehari-hari masyarakat urban. Masyarakat urban cenderung memilih sepeda jenis urban untuk mengakomodasi kebutuhan bersepeda yang nyaman di kondisi jalan perkotaan, mulai dari jalan yang mulus sampai dengan kondisi jalan yang tidak rata bahkan rusak.

Sepeda jenis urban dirasa nyaman dan mendukung mobilitas masyarakat urban untuk beraktivitas dengan lebih mudah, cepat, dan praktis. Pada akhirnya, sepeda yang awalnya bersifat fungsional, kemudian beralih menjadi gaya hidup.

Bersepeda menjadi bagian gaya hidup sehari-hari 

Perubahan gaya hidup tersebut juga mempengaruhi perkembangan bisnis sepeda di tanah air. Salah satu industri sepeda, Polygon juga merasakan pergerakan trend bersepeda yang meningkat di beberapa kota besar beberapa tahun terakhir ini.

“Meski tidak signifikan, permintaan sepeda urban mengalami peningkatan. Kami senang munculnya trend baru yang memicu peningkatan ini, seperti bertumbuhnya bike messenger di kota besar, yakni penggunaan sepeda sebagai kendaraan mengantar paket dengan konsep ramah lingkungan. Artinya, sepeda kini tidak hanya lekat dengan hobi, transportasi, dan fashion, bahkan kini menjadi peluang bisnis startup,” tegas Yunike Maris selaku Marketing Communicatios Polygon Bikes Indonesia.

Trend bersepeda tersebut juga diamini oleh salah satu pebisnis barbershop yang mengakui bahwa sepeda semakin mempercepat mobilitas. “Saya lebih memilih bersepeda setiap hari, dibanding menggunakan transportasi lain. Mengingat di kondisi perkotaan yang padat, sepeda menjadi solusi yang praktis dan cepat sekaligus mendukung gaya hidup sehat,” tegas David salah satu pebisnis barbershop.

Kebutuhan yang semakin meningkat mendorong pabrikan sepeda seperti Polygon mengembangkan varian sepeda urban sport. “Kami mengeluarkan dua varian urban sport terbaru di tahun 2017, yakni Polygon Bend FX4 dan Bend CT5, yang merupakan turunan dari genre road bike dengan modifikasi lanjut untuk menawarkan fleksibilitas yang lebih, kenyaman dan sensasi kecepatan” tambah Yunike.

Tak hanya dari sisi bisnis, pesatnya perkembangan sepeda di Indonesia juga ditanggapi positif oleh pemerintah daerah, dan menjadi salah satu solusi mengatasi kemacetan. Salah satu kota besar di Indonesia seperti Bandung yang menanggapi trend tersebut dengan fokus menjadikan Bandung Kota Sepeda, program yang akan mulai direalisasikan di awal 2017, dengan menyediakan 350 sepeda dengan 30 titik stasiun siap dioperasikan melalui bike sharing.

“Saya berharap dengan sistem bike sharing dapat mengurangi kemacetan di Kota Bandung,” tegas Ridwan Kamil selaku Walikota Bandung. Pada akhirnya tuntutan dan kondisi masyarakat yang dinamis yang memacu kaum urban metropolitan kian menggandrungi sepeda. Sepeda tidak hanya sebagai pilihan hobi dan transportasi, namun lebih dekat dengan keseharian.

Terbukti dengan persentase permintaan pasar yang semakin meningkat dan meningkatnya kesadaran pemerintah daerah akan program yang mendukung kegiatan bersepeda. (*)

Tulis Komentar Anda