Komunitas Ini Ibarat 'Kinjeng', Tangguh dan Peduli Lingkungan

Anggota Komunitas Earth Hour Yogyakarta (Foto : Salsabila Annisa)

KINJENG atau capung adalah hewan dengan daya jelajah yang luas. Selain itu, hewan yang jadi inspirasi helikopter ini juga bisa bertahan dalam kondisi ekstrim. Kinjeng juga bisa menjadi indikator sebuah lingkungan termasuk kategori bersih.

Filosofi 'Kinjeng' inilah yang menginspirasi Komunitas Earth Hour (EH) Yogyakarta untuk menjadi sebutan bagi kelompok mereka. Setidaknya ada 8 kelompok yang masing-masing kelompok yang berisi sekitar 20 orang. Setiap kelompok akan mengajukan program yang berbeda-beda untuk diselenggarakan mulai dari November hingga Januari.

Dari situlah kemudian nama 'kelompok' diganti menjadi kinjeng  atau capung.  Ketika berkumpul bersama anggota komunitas ini, wartawan krjogja.com sering mendengar mereka terus berceloteh seperti, “program kinjeng dua apa sih?” atau “kinjeng satu kapan kumpulnya?”

“Diberi nama kinjeng atau capung itu karena capung itu kan bisa mobile, bisa bertahan di keadaan yang ekstrim, daya jangkaunya jauh,” papar Andika  Faizal Haqi selaku Koordinator Kota EH Yogyakarta. Ia membenarkan bahwa filosofi tersebut mengandung harapan agar anggota EH Yogyakarta dapat menjadi tahan banting seperti capung.

Komunitas EH Yogyakarta saat melaksanakan program di Kali (Salsabila Annisa)

Minggu 19 Februari 2017 kemarin, KRjogja.com mengikuti kegiatan Komunitas EH Yogyakarta di Kampung Wisata Code yang terletak di Kecamatan Jetis, Yogyakarta. Pagi itu, komunitas ini tengah melakukan kampanye Sekolah Sungai di Kampung Code yang diprakarsai oleh komunitas Pemerti Code.

Melalui aksi tersebut, EH Yogyakarta berharap nantinya akan lebih banyak orang-orang yang mengetahui tentang Sekolah Sungai dan menjadi sadar akan pentingnya menjaga kebersihan sungai.

“Harapannya setelah selesai ikut Sekolah Sungai mereka bisa dari mulut ke mulut menyebarkan informasi tentang Sekolah Sungai atau mengajak teman-temannya untuk berpartisipasi,” papar Anggraeni Kumala Dewi, Koordinator Kampanye Sekolah Sungai di Kampung Code.

Komunitas Earht Hour Yogya tengah mendapat pejelasan (Salsabila Annisa)

Kampanye Sekolah Sungai hanyalah salah satu dari beberapa program pelestarian lingkungan milik komunitas yang berdiri di Yogyakarta sejak tahun 2009 tersebut. Dalam merancang dan melaksanakan program-programnya, komunitas EH Yogyakarta mengacu pada tema Eco Tourism (Pariwisata Hijau). Eco Tourism adalah jenis kepariwisataan berbasis alam yang memberi manfaat bagi masyarakat dan destinasi setempat baik dalam hal lingkungan alam, budaya maupun ekonomi.

“Untuk merancang program, sistem kami itu lebih memberi kesempatan untuk teman-teman EH agar bebas berkreasi dengan program mereka, jadi bukan memberi ide ke teman-teman terus mereka tinggal menjalankan saja. Kalau mereka secara berkelompok sudah mengusulkan program, nanti pelaksanaannya akan dibantu sama semua anggota,” imbuh Andika Faizal Haqi.

Selain program kelompok, komunitas ini pun memiliki beberapa program umum yang dirancang oleh seluruh anggota EH. Beberapa diantaranya adalah konservasi penyu di Pantai Samas dan membersihkan sampah di Pantai Goa Cemara yang dilakukan pada tahun lalu. Sebagai salah satu anggota EH Yogyakarta, Balqis Kusuma Octahadi menceritakan pengalamannya ketika mengikuti program tersebut.

Komunitas EH mengumpulkan sampah di Kali Code (Salsabila Annisa)

“Kalau untuk konservasi penyu kami melepas penyu ke pantai dan melakukan edukasi tentang sarang penyu. Kemudian untuk program yang membersihkan Pantai Goa Cemara dari sampah itu kami sampai dapat dua karung sampah dan itu bener-bener penuh karungnya,” ujar Balqis dengan nada bicara yang kaget sekaligus prihatin.

Saat ini, program konservasi penyu yang dilakukan EH Yogyakarta berfokus pada Pantai Samas. Namun untuk rencana kedepannya mereka ingin mengkaji program untuk mengadakan konservasi penyu di Pantai Trisik. Menurut Andika, konservasi di Pantai Trisik tak terlalu baik. Balqis pun mengungkapkan hal serupa. Oleh karena itu, mereka berencana untuk mengkaji program konservasi penyu di Pantai Trisik.

“Konservasi di sana kotor dan penuh sampah, kolam penyunya juga sudah mulai rusak. Apalagi di sana oknum warganya masih ada yang menjual telur-telur penyu itu ke pasar hewan. Dihargainya hanya Rp 3.000 rupiah per butir pula,” papar Balqis masih dengan nada prihatinnya, ia benar-benar merasa kasihan terhadap nasib penyu yang harusnya dijaga kelestariannya.

Menurut cerita Balqis, ada seorang penduduk yang tinggal di dekat Pantai Trisik yang memiliki kepedulian tinggi terhadap nasib penyu di sana. “Ada seorang bapak paruh baya, saya lupa namanya, sepertinya dia nelayan, dia rela membeli telur-telur penyu itu dari warga yang mau jual telur penyunya ke pasar. Telur itu setelah dia beli ya dia kembalikan lagi ke pantai,” jelas Balqis. Meskipun Balqis sangat kagum akan aksi penduduk tersebut, ia menyimpan rasa khawatir. “Bapak itu sudah kehabisan uang untuk menebus telur-telur penyunya,” sambung Balqis.

Kekhawatiran-kekhawatiran semacam itulah yang membuat komunitas EH Yogyakarta berencana mengkaji lebih jauh lagi terkait konservasi penyu di Pantai Trisik sebagai salah satu program mereka. Namun untuk saat ini, anggota komunitas EH Yogyakarta sedang fokus untuk membentuk anggota baru.

Apabila anda tertarik untuk menjadi volunteer peduli lingkungan seperti mereka dan ingin membantu menghilangkan kekhawatiran mereka, komunitas EH Yogyakarta membuka open recruitment setiap akhir tahun.

Alamat Sekretariat Earthy Hour Yogyakarta, Tegal Lempuyangan DN III/41 Yogyakarta. Twitter di @EHjogja atau fanpage facebook di Earth Hour Jogja. (Salsabila Annisa)

Tulis Komentar Anda