Bandara, ‘Bendara’dan Bendera

BANDAR udara (bandara), lapangan montor mabur, lebih mentereng pada disebut airport. Terbukti pada, penyebutan New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulonprogo. Pakai Bahasa Inggris karena berstatus internasional. Naluri yang selalu dipelihara, tunduk pada status internasional dan karenanya harus berbahasa dunia. Tidak tebersit perlunya melakukan perjuangan internasionalisasi sebutan-sebutan lokal.

Keberadaan Bandaran Agung, (pelabuhan laut dan udara yang ramai dan besar), salah satu tanda keagungan dan kebesaran suatu negara (baca: daerah), sebagaimana dideskripsikan oleh para dalang wayang purwa saat melafalkan lirik janturan pada adegan jejer pertama (awal lakon). Negara besar dalam janturan dalang, ditandai, ngungkuraken pagunungan, ngananaken pategalan, ngeringaken pasabinan, ngayunaken bandaran agung.

Artinya, ibukota negara yang di belakangnya berupa kawasan pegunungan, sisi kanan kawasan pertanian tadhah hujan, sebelah kiri kawasan persawahan, dan di hadapannya terdapat suatu bandar (laut) yang besar. Deskripsi ini mirip kondisi gerografis Kabupaten Kulonprogo. Wilayah kabupaten ini seakan menghadap ke arah selatan (laut). Di belakang (utara) terdapat Pegunungan Menoreh. Sisi timur berupa persawahan, sisi barat pategalan, dan menghadap suatu bandar besar berupa Tanjung Adikarto (pelabuhan laut) dan NYIA(pelabuhan udara). Gambaran negeri yang ideal.

Manfaat Besar

Harus diakui, pembangunan NYIA di Kulonprogo menyita perhatian besar. Di samping bernilai investasi sangat besar, NYIA diperhitungkan menimbulkan manfaat besar bagi kesejahteraan negara dan rakyat, juga memberi penanda identitas dan prestise daerah (baca: DIY). Upaya bersama yang dilakukan pemerintah, investor, dan masyarakat agar keberadaan NYIA membawa manfaat bagi masyarakat setempat, sudah terdengar. Baik manfaat dalam proses pembangunan maupun proses operasional nantinya. Termasuk, rancangan agar masyarakat setempat (baca: Kulonprogo) nantinya tidak hanya menjadi penonton, bukan tuan rumah di negeri sendiri, dan tidak memetik manfaat langsung keberadaan NYIA. Perkara terwujud atau tidak, waktu yang akan membuktikan.

NYIA adalah bandara internasional, padat modal, padat teknologi, dan padat karya. Selain itu, juga sangat kental standar kualifikasi modernitas skala dunia. Tantangan utama yang segera muncul adalah kontraksi antara standar kualifikasi bandara internasional dengan pencapaian persyaratan kualifikasi minimal sumber daya manusia dan produk-produk lokal. Pelibatan sumber daya lokal harus disiapkan agar memenuhi kualifikasi standar bandara internasional. Dengan catatan itupun harus siap berkompetisi dalam persaingan pasar terbuka, baik dalam pasar terbuka tenaga kerja maupun pasar bebas transaksi produk.

Persoalan sumber daya lokal tidak sebatas pelibatan mereka dalam pembangunan dan operasional bandara melainkan juga kreativitas dan kemandirian masyarakat merespons keberadaan bandara. Kecerdasan sekaligus kecerdikan sumber daya lokal dalam memanfaatkan momentum pembangunan dan operasional NYIA tidak mungkin tanpa melalui persiapan dan pematangan secara menyeluruh, lahir dan batin. Dari mentalitas, cara pandang, sikap perilaku, kreativitas, keahlian dan keterampilan, produktivitas, sampai dengan kemampuan komunikasi bisnis.

Peradaban Baru

Dalam hal demikian, kekuatan-kekuatan lokal dalam masyarakat perlu berhimpun dan menyusun kebersamaan untuk merespons secara kreatif dan produktif atas keberadaan pembangunan dan operasional NYIA. Satu hal penting adalah, penyusunan taktik strategis implementatif, yang secara kebudayaan mampu membangun peradaban baru masyarakat ‘terdampak NYIA’, tidak sebatas warga yang terkena langsung ganti untung pelepasan lahan.

Jika demikian halnya, maka, keberadaan NYIA yang berdampingan dengan Tanjung Adikarto, sebagai ‘bandaran agung’ akan berfungsi tidak hanya sebagai bandara, melainkan juga bendara (tuan) yang ngayomi-ngayemingayani. Sekaligus bendera, yang dikerek tinggi di tiang pancang, terus berkibar-kibar berteriak nyaring menyuarakan jatidiri bangsa merdekaberdaulat. Bendara yang berbendera. Menjadi tuan di negeri sendiri.

(Purwadmadi. Pemerhati dan penulis seni-budaya. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu 4 Februari 2017)

Tulis Komentar Anda