Seraam!...Naik Angkot Siluman Tanpa Sopir

Foto: Merapi

SORE menjelang malam, karena mendhung menyelimuti langit, hingga suasana menjadi gelap. Karjo (bukan nama sebenarnya) berharap segera mendapat angkot menuju terminal karena hari itu sepulang kerja ia pengin pulang ke rumahnya Klaten. Setengah jam berdiri di tepi trotoar belum satu angkot pun muncul. Menunggu adalah pekerjaan yang menjemukan. Wajah karjo tampak sluntrut. Padahal jarak tempatnya menunggu menuju ke terminal cukup jauh. Karenanya dia takut kemalaman. ”Hem,apa  sudah pada ngandhang  semua ya?” pikirnya.

Namun tiba-tiba, ”Minal! Minal! Minal!” terdengar teriakan kernet sebuah angkot yang mendekati ke tempatnya berdiri. Bukan main senang hatinya, sebab ternyata masih ada angkot beroperasi. Saking pengin sampai rumah, ”terminal, Pak?” tanyanya sambil melambaikan tangan lalu bergegas mendekat ke pintu angkot. Tangannya disambar sang kernet. Saking senangnya tak terpikir akan tangan si kondektur yang dingin .

”Ayo, naik!” pinta kernet, sambil turun dan menyilakan Karjo segera naik. Namun, ketika duduk di dalam angkot,  mendadak  perasaannya  nggak enak, jantungnya  berdegup  semakin  cepat.  Ia menoleh kekiri, kekanan, tak terlihat siapapun, dan kemudian ia teringat kernet yang menyilakan naik. ”Hem, kernet tadi kemana?” gumannya, ”jangan jangan tertinggal?”  kemudian Karjo menggeser duduknya agar mendekat ke Pak Sopir.

”Hah!” Karjo kaget, karena sopirpun tidak ada, ia hanya diam terpaku, melihat apa yang ada di-hadapanya, kemudi angkutan itu gerak sendiri, dan terdengar suara gas seakan ada yang menginjak. Dalam  suasana diliputi rasa takut, Karjo merasakan laju angkot itu baik-baik saja. Namun bulu kuduknya berdiri, dengkulnya gemetaran.

Karjo tak kuasa berbuat apapun, seluruh tubuhnya seakan terkunci, bahkan mulutnya pun tak bisa digerakan. Hanya pikirannya masih berjalan normal,  juga penglihatannnya menyaksikan kejadianya, karena memang mata sulit untuk dipejamkan. Dan semua itu berakir di depan pintu terminal, Karjo seakan dibangunkan dari tidur diatas angkot, ”Oh, ya, saya turun di sini,” begitu ia turun, baru ia ingat peristiwa dan kejadiannya. ”Lalu angkot yang saya naiki tadi?” pikirnya, Sambil mengusap-usapkan kedua telapak tanganya di raut wajahnya, kemudian  ia  bergegas  masuk  ke  terminal dan mencari bus, untuk melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah. (Bagong Soebardjo-Merapi)

Tulis Komentar Anda