Sumarti, Ibu yang Juga Tukang Parkir

Sumarti, seorang ibu yang juga tukang parkir. (Foto: Adi Romadhon)

BANYUMAS (KRjogja.com) - Ny Sumarti, warga Desa Dukuhwaluh RT 03/09, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas, bisa sebagai contoh ibu yang kuat dan pekerja keras. Ia amat ibu, tetapi bekerja pada sektor maskulin. Wanita paruh baya ini sudah lebih 20 tahun menekuni jadi juru/tukang parkir, profesi yang hanya dipandang rendah dan lebih banyak didominasi kaum lelaki. Sumarti tahu pandangan minor seperti itu. Namun ia tetap bekerja memarkir setiap hari Senin sampai Sabtu di depan sebuah toko roti terkenal kota Purwokerto.

"Ya memang pandangan orang, apalagi untuk wanita, jadi tukang parkir itu pekerjaan 'rekasa' dan hina. Tapi bagi saya, itu kerja mulia," kata wanita berkerudung dengan peluit yang tergantung di lehernya dan menggunakan topi baju 'dinas' parkir berwarna orange bertuliskan 'juru parkir' tersebut, Rabu (11/1/2017). Sejak pagi mulai pukul 09.00 sampai pukul 16.00 sore, Sumarti selalu sibuk memarkirkan kendaraan bermotor milik para pengunjung toko bahan roti tersebut.

Mungkin bagi sebagian orang itu merupakan suatu hal yang unik karena seorang wanita tidak lazim berprofesi sebagai juru parkir. "Awalnya aku tidak ingin melakoni pekerjaan ini. Akan tetapi karena alasan tuntutan ekonomi, saya dengan ikhlas melakoni pekerjaan ini, dan ternyata tetap menyenangkan. Awalnya saya menjadi juru parkir karena ingin membantu suami yang juga jadi tukang parkir di depan sebuah optik," ungkap Sumarti.

Disebutkan, parkir telah memberinya keberkahan yang menurut keluarga Sumarti terbilang lumayan. Penghasilannya menjadi juru parkir yaitu Rp 100.000 – Rp 200.000/hari. Hasil dari pekerjaannya sebagai juru parkir bisa membiayai sekolah ketiga anaknya. Anak pertamanya lulusan Program Studi S1 Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, sedangkan anak keduanya lulusan Program Studi S1 Ilmu Administrasi Negara Unsoed, dan yang terakhir masih duduk di bangku kelas X MAN 1 Purwokerto.

"Anak pertama saya setelah lulus kuliah, langsung bekerja wiraswasta produksi bunga plastik hias yang jualannya di Gor Satria Purwokerto setiap hari Minggu. Jika hari biasa, jualannya di rumah dan mengirim pesanan bunga plastik hias sampai Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen. Lain halnya dengan anak kedua saya, setelah lulus kuliah langsung bekerja di PT KAI Purwokerto," papar Sumarti.

Suami Sumarti, Sumarto tidak mempermasalahkan pekerjaan istrinya yang juga jadi tukang parkir seperti dirinya. “Dia juga tulang punggung keluarga selain saya. Suami istri sekarang memang harus dinilai sebagai pasangan yang sama-sama harus bisa sebagai tulang punggung keluarga. kemungkinan tulang punggung keluarga" ujar Sumarto. (Ero)

 

Tulis Komentar Anda