Soal Suap Bupati Klaten, KPK Tak Gentar Jerat Anak Bupati

Foto: Dok

JAKARTA (KRjogja.com) – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami pihak-pihak yang terlibat dalam kasus dugaan suap jual-beli jabatan yang menjerat Bupati Klaten Sri Hartini. Termasuk peran Andy Purnomo, anak Sri Hartini yang juga Ketua Komisi IV DPRD Klaten.

Ketika menggeledah rumah dinas Sri Hartini, KPK kembali menyita uang sebesar Rp3,2 miliar. Uang Rp3 miliar diambil dari kamar Andy dan Rp200 juta dari kamar Hartini. Andy disinyalir menjadi pengepul uang suap dalam kasus yang menjerat ibunya.

"Kita segera dalami peran serta berbagai pihak dalam kasus itu (termasuk anak Bupati Klaten Sri Hartini)," kata Wakil Ketua KPK Saut Situmorang saat berbincang dengan Okezone, Rabu (11/1/2017).

Ia menerangkan, sudah menjadi kewajiban KPK untuk menelusuri keterlibatan pihak lain di lingkungan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, dalam kasus dugaan jual-beli jabatan tersebut. Bila sudah memiliki bukti kuat, pihaknya tak segan meminta pertanggungjawaban mereka.

"Kita harus dalami semua pihak yang memiliki potensi memainkan peran dalam kasus itu, untuk selanjutnya kita tuntut tanggung jawabnya," tegas Saut.

Andy sendiri belum dimintai keterangan oleh penyidik KPK dalam kasus dugaan suap ini. Lembaga antirasuah masih menunggu waktu yang tepat untuk memeriksa anggota DPRD Klaten tersebut. Diduga Andy tahu banyak soal sepak terjang ibunya yang mendulang keuntungan dari bongkar pasang jabatan di Klaten.

Anak sulung bupati usungan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu kini hilang bak ditelan bumi usai penyidik KPK mengacak-ngacak rumah dinas ibunya dan ditemukan uang miliaran rupiah. Andy sendiri belum terlihat berkantor di DPRD Klaten.

Seperti diketahui, Sri Hartini ditangkap KPK dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada akhir Desember 2016. Ia ditangkap bersama tujuh orang lainnya. Penangkapan dilakukan di rumah dinas Hartini dan di rumah Sukarno, Klaten, Jawa Tengah, pada Jumat 30 Desember 2016.

Sedikitnya ada tujuh orang ditangkap di rumah dinas Hartini, yakni Suramlan (PNS), Nita Puspitarini (PNS), Bambang Teguh (PNS), Slamet (PNS, Kabid Mutasi), Panca Wardhana (Staf Honorer), seorang swasta bernama Sunarso, serta Hartini sendiri.
Dari rumah dinas tersebut ditemukan uang sebanyak Rp2 miliar yang tersimpan dalam dua kardus besar serta USD5.700 dan SGD2.035. Sementara dari rumah Sukarno, selain mengamankan pemilik rumah, juga disita barang bukti uang sebanyak Rp80 juta. (*)

Tulis Komentar Anda