Batas Penertiban Sepadan Pantai Belum Ada Realisasi

Ilustrasi. (Foto : Dok)

GUNUNGKIDUL (KRjogja.com) - Batas waktu penertiban sempadan pantai selatan Gunungkidul terutama di Pantai Sepanjang, Drini, Sadranan dan Slili pada Sabtu (07/01/2017) belum ada realisasinya. Sejumlah bangunan di empat titik pantai wisata tersebut masih tetap berdiri, belum ada yang dibongkar. Tim Penertiban baru memantau pada Senin (09/01/2017) kemarin, untuk melihat sampai seberapa jauh progres yang sudah dilakukan warga sesuai kesepakatan saat sosialisasi.

”Kami mengutus Sekretaris Tim Penertiban untuk melihat di lapangan dan hasilnya baru dievaluasi pada minggu ini,” kata Ketua Tim Penertiban Sempadan Pantai Tommy Harahap SH MH kepada KR, Senin (09/01/2017).

Menurut Tommy yang juga Asek I Bidang Pemerintahan dan Kesra, jika ada warga yang sudah mengawali akan didorong untuk segera menertibkannya. Namun jika warga tetap membangkang, Pemkab Gunungkidul akan memberikan surat peringatan I. Jika peringatan I selama 1 minggu belum juga dilaksanakan, akan dikirimkan surat peringatan II, setelah 5 hari akan diberikan peringatan terakhir. ”Jika tidak ada langkah-langkah tertentu, tim akan melakukan penggusuran,” tandasnya.

Terkait tuntutan Pokdarwis Sepanjang agar Pemkab menyiapkan lokasi yang strategis dan dibangunkan kios, Tommy mengatakan Pemkab sudah menyiapkan lahan relokasi berupa tanah SG untuk ditempati. Selanjutnya warga diminta memboyong bangunannya ke tempat relokasi tersebut, meskipun masih berupa bangunan sementara.

Ke depan pihaknya akan mengusulkan kepada Dinas Pariwisata untuk merencanakan pembuatan kios di lokasi yang baru baik dari dana APBD maupun dana keistimewaan. ”Kalau saat ini diminta membangunkan jelas tidak bisa karena pembangunan harus direncanakan sebelumnya. Paling cepat 2018 baru bisa direalisasikan,” katanya.

Sedangkan untuk Pantai Drini, Pemkab juga menyediakan tanah perbukitan dekat dengan Pantai Drini. Lokasi tersebut memang sulit untuk dibuat kios, tetapi bisa dibangun losmen atau penginapan kecilkecil yang bisa mendatangkan rupiah.

Sementara di Pantai Sadranan dan Pantai Slili, sesuai kesepakatan, warga tidak minta direlokasi tetapi langsung dibongkar. ”Karena lokasinya berada di atas pasiran yang sangat melanggar dan membahayakan,” tegas Tommy. (Awa)

Tulis Komentar Anda