Batik Jogja Istimewa

KEISTIMEWAAN Yogya merupakan sistem gagasan yang bernilai sejarah dan filosofi yang luas lagi mendalam. Rangkaian kata-kata saja tidak cukup untuk mengungkapkannya. Bahasa tulis dalam sistem undang-undang, dalam buku-buku sejarah, dan kitab-kitab lainnya tidak cukup menampungnya. Diperlukan media yang lebih luas, lentur, dan dinamnis untuk menyatakan substansi Keistimewaan Yogya. Dan, itu adalah media seni.

Strategi kebudayaan yang dipilih GKR Mangkubumi untuk meneguhkan Keistimewaan Yogya sangat taktis. Ketika Keistimewaan Yogya telah terumuskan secara tertulis (legal formal) dan terus menerus dikaji dan diungkap secara tertulis (ilmiah), putri sulung Sultan HB X ini justru menyatakannya lewat media seni batik. Strategi ini taktis karena justru memberi nilai tambah pada Keistimewaan itu sendiri.

Penyejuk Suasana

Sejauh ini, publik telah memahami adanya potensi persoalan-persoalan krusial terkait bagian-bagian tertentu dari Undang-Undang Keistimewaan Yogya No 13 Tahun 2012. Persoalan itu telah cukup menjadi perdebatan karena secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan masa depan suksesi dan kepemimpinan dalam Keistimewaan Yogya di masa mendatang, Di tengah kontroversi itu GKR Mangkubumi tampil di ruang publik dengan karya seninya yang meneduhkan.

Seni menurut Agus Dermawan dalam buku ‘Budaya dan Seni’ mempunyai fungsi kultural sebagai alat pendamai, peneduh, dan penyejuk suasana dalam interaksi sosial. Sebagai konsultan kolektor benda seni Istana Presiden RI, Agus mencermati perilaku seni para pemimpin di negeri ini. Dia punya catatan tentang apa yang dikatakan oleh RM Sosrokartono (ayah RA Kartini) kepada Bung Karno pada 1932. Sosrokartono berkata : ”Jangan sekali-sekali menjauhi seni, karena seni pelunak rasa benci”. Itulah sebabnya nasionalisme yang membuat Ir Soekarno begitu gigih melawan penjajah, tidak menghalangi seorang Bung Karno untuk dekat dengan pelukis Belanda bernama Wolf Shoemaker.

Menurut catatan Agus, Bung Karno pernah berkata : ”Saya melawan politik Belanda, tapi seni menyuruh saya untuk tidak membenci orang Belanda.” Sikap bersahabat dalam seni juga ada dalam diri Bung Karno saat menghadapi penjajah Jepang. Pada zaman Jepang, Bung Karno bersama Letnan Jenderal Imamura membentuk lembaga kebudayaan dan kesenian seperti Keimim Bunka Sidhoso. Bung Karno mengutus pelukis andal Basuki Abdullah untuk melukis Letjend Imamura.

Hampir semua Presiden RI dalam catatan Agus menggunakan seni untuk menyejukkan suasana. Pada 1985 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hasan mengajak para seniman dari berbagai bidang seni untuk menciptakan suasana politik yang teduh melalui karya-karya seni. Presiden Megawati mengubah Bina Graha (bekas kantor Presiden Soeharto) menjadi Museum Seni Istana. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memakai seni musik dan mencipta album. Presiden Joko Widodo bahkan menggunakan kesukaannya pada musik rock untuk melengkapi perilaku kepemimpinannya.

Dimensi politik berpotensi membuat masalah Keistimewaan Yogya menjadi panas. Dan jika konflik kecil gagal dikelola maka konflik besar bisa menggoyahkan apa yang selama ini sudah kita perjuangkan bersama. Karena itu langkah GKR Mangkubumi untuk berkarya seni Batik Jogja Istimewa patut diapresiasi karena membawa kesejukan baru.

Dipakai Raja

Adapun batik itu sendiri merupakan karya seni yang dipakai para raja untuk mengomunikasikan pesan-pesan politiknya. Batik bermotif Semen Rama yang diciptakan oleh Paku Buwono IV (1788-1820) dipakainya untuk memberikan pelajaran filosofis kepada putranya. Ajaran itu adalah ajaran kepemimpinan Hasta Brata yang merupakan prinsip-prinsip kepemimpinan yang diajarkan oleh Prabu Ramawijaya kepada Raden Gunawan Wibisono.

Kreasi Batik Jogja Istimewa adalah media komunikasi dalam kepemimpinan GKR Mangkubumi. Strategi seni budaya seperti itu juga telah dilakukan oleh GKBRAy Paku Alam (istri Wakil Gubernur KGPAA Paku Alam X). Di Kantor KR pada 12 Maret 2016 silam, GKBRAy Paku Alam melaunching batik-batik karya Pura Pakualaman yang mengusung pesan-pesan kepemimpinan luhur.

(Livy Laurens MACE MA. Penulis adalah Ketua Gerakan Cinta Batik sebagai Mahakarya Indonesia. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 10 Januari 2017)

Tulis Komentar Anda