Menyelundupkan Hewan Tak Semudah yang Dibayangkan

Ilustrasi. (Foto: Doc)

SLEMAN (KRjogja.com) - Sebanyak 71 ekor satwa yang gagal diselundupkan oleh Yf (27) dan Vt (25) ke Bangkok melalui Yogyakarta, Sabtu (7/1/2017) lalu, beberapa di antaranya termasuk hewan dilindungi karena terbatasnya jumlah populasi.  

Ke-71 reptil dan amphibi itu terdiri enam jenis, yaitu biawak coklat (Varanus gouldii), biawak maluku (Varanus indicus), biawak timor (Varanus similis), kadal lidah biru (Tiliqua gigas), kura-kura (Emydura subgiobusa), katak (Litoria caerules), ular phyton (Phyton breitensteini) dan soa payung (Chlamydosaurus kingii). Sedangkan yang termasuk hewan dilindungi biawak coklat, biawak maluku, kadal lidah biru dan soa payung.

"Semua hewan yang dibawa tersangka Yf dan Vt seharusnya memiliki Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Luar Negeri (SATSLN) dan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) jika bukan hewan liar," ujar Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Yogyakarta Ir Wisnu Haryana, Senin (9/1/2017) di kantornya, Jalan Laksda Adisutjipto Km 8 Sleman.

Wisnu Haryana menjelaskan, Yf dan Vt rencananya akan menjual hewan tersebut namun berdalih kekurangan waktu untuk mengurus dokumentasi di Balai Karantina Pertanian, padahal mereka sudah berulangkali mengirimkan media pembawa hewan dan memahami persyaratan karantina.

"Jangan mencoba lagi menyelundupkan hewan atau tumbuhan di bandara. Kami bekerja sama dengan pihak AVSEC Angkasa Pura I Bandara Internasional, sehingga bisa cepat teratasi," paparnya.

Wisnu menegaskan, Balai Karantina Pertanian yang ia pimpin telah banyak memberikan sosialisasi ke masyarakat khususnya terkait pengiriman hewan atau tumbuhan. Ia berpesan agar masyarakat mau meluangkan waktu mengurus dokumen jika ingin mengirimkan hewan ke daerah ataupun negara lain.

"Dengan penangkapan ini bukan berarti satwa tidak bisa dikirimkan, tetap boleh tapi lengkapi dulu dokumennya, kami akan membantu. Jika tidak lengkap, maka itu adalah pelanggaran Pasal 7 Undang Undang No 16 Tahun 1992 tentang Karantinan Hewan, Ikan dan Tumbuhan," ucap Wisnu.

Menurut Kasubdit Tindak Pidana Tertentu Ditreskrimsus Polda DIY AKBP Bhakti Andriono, Kepolisian masih mengembangkan kasus tersebut. Dua orang yang ditahan dijerat Pasal 40 ayat 2 junto Pasal 21 ayat a dan c UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam, Hayati dan Ekosistem, dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara atau denda Rp 100 juta.

Semua hewan yang ditempatkan di dalam boks plastik berukuran cukup besar itu dibawa ke Kebun Binatang Gembira Loka untuk dirawat terlebih dahulu. Jika bisa dijadikan hewan peliharaan kebun binatang tersebut, maka akan ditaruh di situ, jika tidak maka akan dikembalikan ke habitat asal.

"Habitat mereka ada di daerah Maluku dan Papua, nanti lihat keadaan akan dikembalikan ke sana atau tidak," papar Pengendali Ekosistem Hutan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta Kusmardiastuti SHut MP. (*-1)

 

Tulis Komentar Anda