Ganggu Lalin Dan Citra Kota, Masyarakat Dilarang Beri Uang Pengemis

Ilustrasi

BOYOLALI (KRjogja.com) - Masyarakat diimbau untuk tidak memberikan uang kepada pengamen, pengemis, dan gelandangan yang kerap beroperasi di berbagai persimpangan jalan di wilayah Boyolali. Selain cukup mengganggu pandangan mata, keberadaan mereka juga dinilai cukup mengganggu ketertiban lalu lintas.

 

Kepala Dinas Perhubungan Boyolali, Bony Facio Bandung, Senin (9/1) menjelaskan, sebagai langkah sosialisasi tentang larangan tersebut, pihaknya bahkan sudah melakukan studi banding ke kota di Yogyakarta yang sudah menerapkan larangan pemberian uang kepada pengamen, gelandangan, serta pengemis di jalanan. Hasil studi banding tersebut akan digunakan untuk realisasi penerapan aturan yang sama di Boyolali.

Menurutnya, dasar imbauan tersebut sudah ada, yakni Perda Nomor 5 Tahun 2016 Tentang Ketertiban Umum. Sebagai langkah awal, pihaknya sudah menganggarkan dana untuk penyediaan baliho yang berisi imbauan untuk tidak memberi uang kepada kaum peminta-minta seperti pengamen, pengemis, dan gelandangan. Baliho akan dipasang di titik-titik persimpangan yang kerap menjadi wilayah operasi mereka untuk minta uang pada pengendara yang melintas.

“Mereka kalau minta-minta uang sampai ke tengah jalan. Selain mengganggu lalin, itu membahayakan keselamatan mereka sendiri,” katanya.

Kepala Dinas Sosial Boyolali, Purwanto, menambahkan, pihaknya bersama Satpol PP sudah kerap melakukan operasi untuk menjaring pengamen dan sejenisnya agar tak berkeliaran di jalanan. Meski kerap dioperasi, namun keberadaan selalu kembali muncul. Selama ini, mereka kerap terlihat berada di perlintasan-perlintasan ramai di jalur Solo – Semarang, yakni di pertigaan Ngangkruk, Pengging, dan Bangak. Pada malam hari, mereka juga kerap terlihat berkeliaran di Komplek perkantoran terpadu Boyolali yang juga menjadi ruang publik.

“Kalau memungkinkan, nanti kita buatkan Perda (larangan pemberian uang ke pengemis, pengamen dan gelandangan, red),” ucapnya.

Sebelumnya, Bupati Boyolali Seno Samodro menuturkan, ia sudah memberikan instruksi kepada jajaran di bawahnya untuk membuat aturan teknis dan pengunguman tentang imbauan dan larangan pemberian uang kepada kaum peminta-minta. Selain merusak citra kota dan membentuk mental yang buruk, menurut Seno, pemberian uang kepada gelandangan seperti anak punk yang kerap mengamen di jalan raya kurang berfaedah, sebab sering kali hasilnya digunakan untuk mabuk-mabukan. (R-11)

Tulis Komentar Anda