Lain Dunia

Hii...Wedon vs Pocong Sor Ringin Apa Jadinya?

Foto: Merapi

SARWITO (bukan nama sebenarnya), pemuda desa di wilayah Sleman Barat itu suka iseng. Sarwito yang bandel itu memang terkenal jika ia nggak pernah merasa takut walau harus berada di tempat yang wingit atau angker sekalipun.

Ketika maraknya judi nomor buntutan, sebuah makam kuno di desanya sering dipakai  orang  untuk  mencari  nomor  jitu. Orang  yang  datang biasanya  tafakur  dibawah pohon beringin besar yang tumbuh di tengah makam. Melihat hal itu, timbul niat iseng Sarwito, ”Sekali-sekali harus dikerjain,” pikir Sarwito sambil menyiapkan sesuatunya, ”Nanti malam  pasti  mereka  datang,  besok  kan malam bukaan nomor,” lanjutnya.

Malam itu Sarwito sudah siaga dengan kostum wedonnya di sebuah cungkup, yang tidak  jauh  dari  pohon  beringin  dimana orang mencari nomor dan tak begitu lama, ada empat orang datang, mereka menyiap- kan ubarampe di akar beringin. Keempat lelaki  tampaknya  amat  bernafsu  untuk mendapatkan nomor jitu. Setelah semua siap, seorang di antaranya mulai menyalakan dupa sambil mulutnya komat-kamit, ditancapkan lidi dupa terse- but disela-sela akar beringin, aroma asap dupa pun mengembara ke seluruh makam, ”Kita tunggu,” tutur orang yang membaka dupa tadi pelan.

Saat orang-orang pencari nomor tafakur, Sarwito memulai aksinya, ia menekan tombol walkman yang sudah disambung ke sepiker kecil, ”Hi hi hik hik hik..hiiiiiiii,” suara itu terdengar melengking memecah kesunyian. ”Ssst, tenang saja,” pinta penyulut dupa, yang lain pada merapatkan duduknya, mereka tampak ketakutan, karena belum pernah mendengar suara aneh sebelumnya.

”Biar kapok,” tukas Sarwito memulai aksinya. Dengan kostum wedonnya ia mulai melompat keluar dari cungkup, namun baru beberapa lompatan, terdengar tawa melengking, ”Hi, hi hi hi, hi!” Sarwito spontan menoleh, dan dibelakanya terlihat pocong yang terbang perlahan mengejarnya, ”Pocong! Pocong, pocong!” teriaknya keras. Dan teriakan itu pun terdengar orang-orang pencari nomor, mereka lari tunggang langgang.

Semua tunggal langgang. Termasuk wedon aspal itu. Celakanya, karena ”seragam” yang dikenakan Barjo ngribedi, tak urung Barjo
kesrimpet. Wedon yang tidak punya nyali itu lalu jatuh terguling-guling. Kepalanya babak bundhas, badannya lecet-lecet. Untuk pocong itu tidak melanjutkan pengejarannya, sehingga Barjo masih bisa bangun lalu lari nggenjrit lagi. ”Slamet, slamet, slamet,” mulutnya gedumelan sambil nafasnya ngos-ngosan.  (Bagong Soebardjo/Jbo/ Merapi)

Tulis Komentar Anda