Mawali dan Masyayikh Ngayogya

Ilustrasi. (Foto: Doc)

BERUK yang pendiam dan tidak pernah kemruyuk bicara, menyodorkan tulisan yang mengagetkan dan mengharukan saya. Dia bukan seorang penulis, yang ia berikan hanya semacam catatan harian, atau lebih tepatnya seolah-olah ia menulis surat kepada saya, Simbahnya, yang merupakan salah satu sahabat kehidupan dan teman dialognya.

"Simbah japemethe," tulisnya, "sejak Simbah menugasi kami bertiga untuk nggrabag rasa lingkungan alam dan manusia Yogya, saya jalani hari demi hari yang memberi kesimpulan bahwa saya tidak memiliki kemampuan untuk itu…"
Saya penasaran apa yang ia maksud sebagai 'tidak punya kemampuan'.
"Pertama karena bakat alamiah yang disuntikkan Tuhan kepada saya tidak mengandung keunggulan apa-apa atas orang lain," tulisnya, "malahan mungkin di bawah rata-rata kebanyakan orang."

Beruk menulis bahwa ia tidak punya kelengkapan ilmu dan pengetahuan untuk melihat dan memahami Yogya. Mungkin yang ia pahami tidak mungkin di atas 5 persen dari entitas kemakhlukan dan keterbuatan Yogya yang sebenarnya.

Kemakhlukan dalam arti ada bagian-bagian dari Yogya yang diciptakan oleh Tuhan. Misalnya bentangan alam dari puncak Merapi ke tiang pancang Balairung di bangunan samar di Laut Selatan. Yang Pangeran Mangkubumi kemudian menemukan garis lurus di antara keduanya, dan dijadikan sebagai semacam Khatulistiwa kosmologi Ngayogyakartahadiningrat. Garis lurus yang terletak padanya proporsi kosmologis ditatanya Negeri Ngayogya, yang pada titik-titik dalam garis itu terdapat penyatuan dan kemenyatuan antara Tuhan, alam, dan manusia.
Terdapat koordinat-koordinat nyawiji antara ketiganya. Terdapat sumber hikmah dan ilmu agar ditemukan aplikasi sosial dan kesejarahan dari prinsip manunggaling kawula lan Gusti.
Pada garis lurus itu termuat sumber Garis Besar Haluan Negeri Ngayogyakarta. Yang berbeda dengan GBHN Negara Republik Indonesia yang sentris manusia, sehingga kurang atau bahkan tidak menemukan dan meletakkan Tuhan dan alam sebagai subjek primer atas kehidupan yang dilangsungkan.

Sebagaimana kalau manusia peradaban modern yang angkuh merumuskan demokrasi tanpa pernah memikirkan hak primer tanah, sungai, gunung, pepohonan, dan daun-daun. Tidak juga macan dan kera-kera di rerimbunan lereng Merapi. Demokrasi modern adalah hegemoni makhluk manusia yang memperlakukan Tuhan, Malaikat, Nabi dan Rasul, serta alam hewan dan tetumbuhan, hanya sebagai pelengkap penderita, bahkan sebagai objek yang dieksploitasi.
Berdiri dan dibangunnya Negeri Ngayogya tidaklah demikian. Kesadarannya tentang subjek-subjek kehidupan dan pelaku-pelaku sejarah di balik yang kasat mata, merupakan landasan pembangunan sejarahnya. Manusia modern, kaum terpelajar dan para pemakan sekolah dan universitas, menganggap manusia adalah segala-galanya. Mereka berpikir bahwa mereka adalah penghuni satu-satunya bumi dan hamparan tanah. Yang lainnya, alam dan Tuhan, Malaikat, iblis, setan dan jin, hanyalah alat yang dieksploitasi dan dimanipulasi untuk kepentingan manusia. Bahkan dirakusi, dirusak, dan didhalimi.

Manusia modern tidak punya penglihatan pengetahuan dan pendengaran ilmu untuk memahami secara mengakar kalimat almarhum Mbah Maridjan: "Jangan pernah ucapkan Gunung Merapi meletus. Ia sedang berhajat. nduwe gawe." Mereka tidak pernah mau mengerti bahwa mereka tidak 'hidup sendirian' di Yogya. Mereka tidak pernah belajar menyapa para tetangga, beragam makhluk, para Ki Ageng dan Ki Gede, para Mawali dan Masyayikh di hamparan antara puncak Merapi dengan Balairung Laut Selatan. (*)

Tulis Komentar Anda