Wayang Bocor Bakal Tampil di Amerika

Penampilan Wayang Bocor. (Foto: Febriyanto)

BABAK baru bakal dilakoni perkumpulan kreasi Wayang Bocor. Pasalnya,garap kreativitas yang menghadirkan sajian wayang kulit dengan paduan beragam kreasi kontemporer ini akan tampil dalam Festival Under The Radar di North Carolina Amerika Serikat Januari 2017 mendatang.

"Prosesnya panjang hingga akhirnya bisa tampil di Amerika. Sudah cukup lama Wayang Bocor menjalani tahapan audiensi hingga akhirnya kesampaian tampil di Negeri Paman Sam tersebut," tutur dedengkot Wayang Bocor, Ki Catur 'Benyek' Kuncoro ditemui KRjogja.com, Senin (26/12/2016).

Dalam kesempatan tersebut, Wayang Bocor diundang dan didanai Asia Society. Rencananya rombongan Wayang Bocor yang diperkuat 10 orang akan bertolak ke Amerika pada 10 Januari hingga 24 Januari 2017.

Sebelumnya, Wayang Bocor sudah ditampilkan di IFI-LIP pertengahan Desember ini sebagai ekshibisi. Diharapkan nantinya Wayang Bocor akan memberi referensi lebih terhadap perkembangan wayang di nusantara.

Menurut Ki Catur 'Benyek', dalam kesempatan tersebut akan dihadirkan pementasan menggunakan pengantar bahasa Indoensia yang ditranslate ke bahasa Inggris. Namun demikian akan lebih banyak dihadirkan permainan visual sehingga masyarakat Amerika lebih memahami jalur cerita.

Dalam kesempatan tersebut Wayang Bocor akan membawakan cerita tentang perkembangan Islam di Indonesia, khususnya sejak perkembangannya di Pulau Jawa. Sehingga akan ada peran Sunan Kalijaga atau Raden Mas Sahid yang berguru ke Sunan Bonang hingga akhirnya melengkapi Wali Sanga.

"Bicara soal Islam di Indoensia memang sensitif. Ada juga pandangan
miring di luar negei tentang Islam. Tapi kami coba bawakan sepeti apa Islam yang sesungguhnya dan hingga saat ini masih berkembang di Jawa. Islam yang damai, rahmatan lil'alamin jauh dari kekerasan," lanjut Catur Kuncoro.

Konsep Wayang Bocor sendiri hampir seperti wayang kulit klasik. Hanya saja lebih banyak bermain di sisi bayang-bayang. Ceritanya juga tidak pakem karena menyesuaikan dengan misi yang akan disampaikan.

"Termasuk kolaborasi dengan teater dan garap pentas drama lainnya untuk melengkapi alur cerita," jelas Benyek.

Demikian juga dengan iringan yang digunakan. Tidak melulu harus menggunakan konsep gamelan klasik. Tapi juga menyesuaikan dengan lakon yang dihadirkan untuk menghadirkan dramatisasi adegan sehingga pesan bisa sampai kepada penonton. (R-7)

 

Tulis Komentar Anda