Jogja Records Store Club Gelar Pasar Tiban Kaset Fisik

Kaset dan piringan hitam akan mendominasi pasar tiban bertajuk "Podomoro". (ISTIMEWA)

PENGGEMAR dan penikmat rilisan dalam bentuk fisik berbentuk CD, kaset pita maupun piringan hitam saat ini masih tergolong cukup banyak di Indonesia. Di forum jual beli online masih cukup ramai memperjual belikan atau hanya untuk barter sejumlah rilisan.  Selain online, geliat jual beli rilisan fisik pun masih terjadi di toko-toko musik di Indonesia walaupun beberapa tahun belakangan toko musik besar (chain store) gulung tikar.

Situasi ini juga terlihat di Yogyakarta selama lima tahun terakhir. Masih banyak terdapat toko musik online dan offline yang melayani para penikmat rilisan fisik. Ada yang membuka di internet melalui sosial media, maupun di rumah sendiri, menyewa bangunan toko maupun di pasar tradisional. Berangkat dari hal tersebut akhirnya muncul sebuah wadah kolektif pemilik toko musik dan records label dari Yogyakarta, Jogja Records Store Club.

Wadah kolektif itu rencananya pada Rabu (21/12/2016) bakal menggelar ajang kumpul penggemar musik fisik dalam acara pasar tiban kaset fisik Indonesia bertajuk "Podomoro" di Kedai Kebun Tirtodipuran. Bersama seniman Agung "Leak" Kurniawan, konsep pasar ini akan menyajikan bazar kaset dan ragam acara menarik lainnya. Martinus, Director Jogja Records Store mengatakan bahwa alasan mereka memilih tajuk "Podomoro" adalah kesejarahan musik di Yogyakarta.

"Pasar tiban ini dinamakan Podomoro, sesuai dengan nama sebuah toko musik legendaris di Yogyakarta pada era akhir 1960-90an. Pada perkembangan selanjutnya akhirnya tercetus beberapa ide lain untuk mengembangkan konsep pop up market Podomoro ini," bebernya, belum lama ini.

Bazaar rilisan musik akan menyajikan toko musik dan records label dari Yogyakarta yaitu: Samstrong Records, Demajors_Jogja, DoggyHouse Records, WLRV, Otakotor Records, Mindblasting, Pengerat Shop, Disgusting Tape, Roots Music, Jesuiscidal Records, Rilisan Fisik, Deep, Altar Alpokalips dan Yes No Shop. Ada juga stand pembuatan lagu oleh Leliani Hermiasih, Irfan Rizkidarajat, Danto "Sisir Tanah", Fafa Agoni & Ananda Badudu, di mana semua orang bisa memesan lagu kepada ke lima musisi ini sesuai dengan tema yang diinginkan untuk kemudian direkam menggunakan hp mereka.

Selain pop up toko musik, ada juga tiga pameran bertemakan rilisan musik yaitu: Perpustakaan Hip Hop Nusantara (oleh Triaman "Sambrenk"), pameran Indonesian Celtic Punk Movement Exhibition (oleh Jr Miko "WLRV") serta pameran kaset bootleg personal. "Akan digelar juga diskusi dan workshop yang berhubungan dengan musik diantaranya diskusi tentang menghandle band tour bersama kolektif YK Booking. Tidak ketinggalan workshop  mengenai records label bersama beberapa owner records label, workshop membersihkan rilisan musik serta workshop foto rilisan menggunakan hp," sambung Martinus.(Des)

 

Tulis Komentar Anda