Megahnya Kedaton Kutai Kartanegara Ing Martadipura

Kemegahan Kedaton Kutai Kartanegara Ing Martadipura. (Foto : Febriyanto)

TENGGARONG (KRjogja.com) - Kemegahan Kedaton Kutai Kartenagara Ing Martadipura tidak lagi mampu memberikan kekuasaan bagi sang penguasa di dalamnya. Sebab, Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dan Kedaton Kutai Kartanegara saat ini lebih sebagai lembaga budaya untuk mempertahankan warisan budaya sebagai kerajaan tertua di Nusantara.

Seperti halnya Kedaton Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang dibangun ulang pada tahun 2000. Meski mengusung arsitektur menyerupai bentuk Kraton Kutai pada awalnya, namun corak Kutai Kartanegara akan cukup sulit didapat. Pasalnya Kedaton Kutai yang ada saat ini berdiri kokoh dengan bangunan moderen. Sementara Kedaton Kutai lama terbuat dari kayu pada semua bagiannya.

"Kraton Kutai pernah dibakar habis pada awal kemerdekaan, terlebih saat Pemberontakan PKI. Bahkan ketika itu Sultan Kutai sempat ditawan meski akhirnya dilepaskan," tutur Sekretaris Kedaton Dr HAPM Haryanto Bachroel kepada KRjogja.com sela berkunjung ke Kutai Kartanegara Kalimantan Timur belum lama ini.

Menurut pangeran keluarga Kraton Kutai Kartanegara tersebut, era Kasultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura berakhir pada 1960 dengan Sultan terakhir Aji Muhammad Parikesit. Saat itu pula kekuasaan pemerintahan diserahkan pada pemerintah RI untuk selanjutnya Sultan dan keluarganya lebih pada simbol budaya.

Namun era 2000an, Pemerintah Daerah Kutai Kartanegara berniat menghidupkan kembali Kasultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Bukan semata untuk menghidupkan pemerintah feodal di daerah. Tapi menghidupkan sejarah dan budaya Kutai kartanegara yang tidak bisa dihapuskan sebagai kerajaan tertua di nusantara.

Keinginan tersebut akhirnya disetujui pemerintah. Karena itulah Kedaton Kutai kartanegara lantas dibangun kembali. Selain itu putra mahkota H Aji Pangeran Praboe Anoem Soerya Adiningrat dinobatkan menjadi Sultan Kutai kartanegara Ing Martadipura dengan gelar Sultan H Aji Muhammad Salehuddin II.

Bangunan Kedaton Kutai Kartanegara pun dibangun menyerupai aslinya meski tidak menggunakan kayu. Ruangan istana nampak megah dan mewah dengan tatanan Singgasana Sultan di kelilingi oleh kursi yang terbuat dari emas. Di sebelah kiri Singgasana terdapat Gamelan Jawa. Di dalam Kedaton juga terdapat banyak ukiran yang berciri khas adat Kutai, Dayak dan Jawa untuk menunjukkan bahwa Kerajaan Kutai Kartanegara memiliki hubungan sejarah yang erat dengan suku Dayak dan kesultanan di Jawa. (R-7)

Tulis Komentar Anda