Nekat ke Bandung, Rektor Ini Tinggalkan Kesempatan untuk Dipuja

Prof Rochmat Wahab dalam sebuah acara kaitannya sebagai Rektor UNY. (UNY.ac.id)

SETELAH berhasil mengadu nasib di Mojokerto dan memperoleh predikat lulusan terbaik dan Ketua OSIS di PGA 6 Tahun Mojokerto, Rochmat Wahab kembali nekat untuk menempuh pendidikan di IKIP Bandung. Idealisme yang dipegang teguh oleh Rochmat ini pada awalnya disesali oleh banyak orang termasuk orang tuanya.

"Sudah bisa ngajar (karena lulusan pendidikan guru). Saya nggak mau mengajar dulu. Padahal zaman dulu guru di desa itu dipuja puja dan dianggap paling pintar. Tapi saya idealis ingin belajar. Ke desa nanti cepat kawin malah," kenang Rektor Universitas Negeri Yogyakarta yang akan segera mengakhiri jabatannya tersebut.

Sama seperti awal dirinya merantau ke Mojokerto, sebelum kepergiannya Rochmat diberi bekal 60.000 rupiah. Uang itu kemudian ditambah dengan beasiswa yang diperoleh Rochmat atas statusnya sebagai siswa yang kurang mampu namun memiliki prestasi cemerlang di PGA Mojokerto.

Selain itu, selama menunggu jeda antara kelulusan PGA dan masuk kuliah, Rochmat memberikan bimbingan belajar privat kepada tetangganya di desa. "Beasiswa 1 bulan 10 ribu. Dirapel 9 bulan saya dapat 90 ribu. Adik tetangga saya juga saya beri les sebelum saya ke Bandung. Lumayan tambah modal," ungkap Rektor UNY ini menceritakan masa kecilnya.

Setelah modal dirasa cukup dan pendidikan IKIP Bandung dimulai, Rochmat pergi ke Bandung. Disana, Rochmat tinggal bersama teman di daerah Dago. Rumah yang dihuni Rochmat tersebut berada persis di atas kediaman BJ. Habibie, Presiden RI ketiga.

Rumah yang dihuni Rochmat sangat kecil dan belum dialiri listrik serta air, sangat kontras dibandingkan rumah Habibie yang besar dan asri. Karena itulah, Rochmat setiap hari harus mengambil air di sungai yang terletak di bawah rumah Habibie setiap harinya. Air yang diambil Rochmat tersebut digunakan untuk masak, mandi, dan beberapa kegiatan lainnya. "Ngangsu 60 meter setiap pagi habis subuh. Sekali ngangsu dua ember," ujarnya.

Belum lama tinggal disana, Rochmat mendengar ada lowongan pekerjaan yang menyediakan hunian gratis dan fasilitas lebih baik dari rumah temannya. Rumah tersebut berada di Perumahan ABRI Bandung dan dihuni oleh seorang nenek berusia lanjut yang sudah ditinggal mati sang suami. Tugas Rochmat di rumah baru itu adalah membersihkan halaman dan pekarang depan rumah setiap harinya.

"Gratis saja. Yang penting bersihkan pekarangan tuan putri," ungkapnya. Rochmat seringkali memanggil sang nenek dengan sebutan tuan putri, karena tutur katanya yang sangat lembut layaknya putri raja.

Setiap kali Rochmat membersihkan pekarangan, Rochmat selalu menemukan alpukat matang yang jatuh dari pohon di pekarangan tersebut. Rochmat yang merasa sayang apabila buah tersebut disapu begitu saja memakannya dengan lahap setiap pagi saat membersihkan pekarangan.

Pernah suatu ketika, karena Rochmat terlalu banyak memakan buah alpukat, perutnya menjadi mencret dan harus istirahat di rumah selama beberapa waktu. "Pohon besar sekali buahnya banyak. Makan alpukat dikasih gula setiap hari luar biasa nikmatnya," ujar Rochmat menceritakan masa lalunya.

Pada semester kedua, Rochmat pindah dari rumah tuan putri menuju ke asrama IKIP Bandung. Tidak perlunya Rochmat membeli makan karena sudah disediakan secara gratis oleh asrama dan keinginannya untuk tinggal bersama teman-teman IKIP menjadi alasan Rochmat pindah. Di asrama, Rochmat Wahab terpilih menjadi ketua asrama. (Ilham Dary Athallah)

Karena kecakapannya, Rochmat Wahab terpilih sebagai perwakilan mahasiswa yang menghadap Presiden Soeharto. Sebuah tugas yang banyak mendapat cibiran kawan-kawannya mengingat presiden saat itu mengeluarkan kebijakan yang kontroversial. Kisah Selanjutnya : Dicibir Temannya, Rochmat Wahab Serahkan Pemikiran Mahasiswa ke Soeharto

 

Tulis Komentar Anda