Rochmat Wahab Buat Skenario Seolah-olah Dapat Hadiah dari Sekolah

Prof Dr Rochmat Wahab dalam sebuah kegiatan menerima kunjungan dari IDB (UNY.ac.id)

ROCHMAT Wahab sengaja tidak memberitahukan kepada ayahnya, bagaimana ia memenuhi kebutuhan sekolahnya. Ia selalu memberi alasan bahwa karena prestasinya, ia mendapatka hadiah dari sekolah.

Ayah Rochmat percaya saja karena di setiap caturwulan pada kelas 1 dan 2, Rochmat selalu mendapat juara kelas dan seolah-olah mendapatkan hadiah dari sekolah yang disaksikan oleh orang tua siswa.

 

Baca Kisah Sebelumnya :

Kisah Masa Kecil Rektor UNY yang Tak Banyak Orang Tahu

Prof Rochmat Wahab Sering Diejek Temannya Karena Menunggak Bayar Sekolah

Rektor Ini, Lulus SD Jadi Buruh Tani Demi Melanjutkan Sekolah

Padahal, hadiah yang diberikan sekolah kepada Rochmat hanyalah hadiah bohongan yang diskenario Rochmat agar orang tuanya tidak khawatir atas pekerjaannya dan pilihannya untuk bersekolah.

"Saya sendiri yang minta ke pak guru dibelikan kertas kado coklat. Saya bungkus buku jurnal kelas. Lalu minta pak guru menyerahkan pada saya sebagai juara kelas di depan bapak saya. Supaya bapak saya percaya dan tidak khawatir," kenangnya.

Baru pada kelas tiga, sang ayah mau mendanai biaya sekolah Rochmat karena tersentuh dengan perjuangan anaknya menuntut ilmu dan prestasinya di sekolah. Namun sang ayah tetap tidak mengetahui soal pekerjaan Rochmat hingga Rochmat dewasa dan bercerita pada sang ayah.

Setelah lulus dari PGA 4 tahun di Jombang, Rochmat melanjutkan pendidikan di PGA 6 tahun di Mojokerto yang kini telah berubah nama menjadi MAN Sooko Mojokerto. Ketika di Mojokerto, Rochmat mondok di sebuah pondok pesantren di daerah sekitar PGA tersebut.

Rochmat yang telah lulus sekolah sebelumnya dan memiliki sertifikat dan keahlian untuk mengajar di sekolah dasar pun membagi waktu sehari-harinya untuk mengaji, sekolah,dan mengajar. "Pagi malam ngaji, siang sekolah, di sela selanya ngajar materi umum di MI. Kalau ngajar pakai celana panjang. Kalau sekolah SMA dulu wajib celana pendek," ungkap Prof Rochmat.

Walaupun datang dari Jombang dan masih menyesuaikan diri serta harus membagi waktu dengan berbagai kesibukan, prestasi Rochmat di PGA Mojokerto tetap moncer. Rochmat menjadi ketua kelas dan memperoleh nilai terbaik seangkatan. Selain itu pada kelas 6, Rochmat juga dipilih oleh teman-temannya sebagai ketua OSIS.

Pengalaman inilah yang membawa Prof Rochmat menekankan pemuda tentang pentingnya memperjuangkan tekad dan cita-cita apapun kondisi yang kita hadapi. "Yang penting nekat dan punya tekat, semua rintangan akan terlewati," tegasnya. (Ilham Dary Athallah)

Setelah berhasil mengadu nasib di Mojokerto dan memperoleh predikat lulusan terbaik dan ketua osis di PGA 6 Tahun Mojokerto, Rochmat Wahab kembali nekat untuk menempuh pendidikan di IKIP Bandung. Padahal pada masa itu ia sudah mengantongi ijazah untuk jadi guru. Profesi yang saat itu sangat dihormati. Ia merasa proses belajarnya belum tuntas. Baca kisah selanjutnya tentang Prof Dr Rochmat Wahab yang segera menuntaskan amanahnya sebagai Rektor UNY ini besok. Kisah tentang menjadi mahasiswa di Bandung, aktivitasnya sebagai aktivis mahasiswa, termasuk kisah asmaranya.

 

Tulis Komentar Anda