Prof Rochmat Wahab Sering Diejek Temannya Karena Menunggak Bayar Sekolah

Prof Dr Rochmat Wahab dalam sebuah acara Har i Raya Kurban. (UNY.ac.id)

PERJUANGAN Rochmat di SD tidak selalu berjalan mulus. Dia seringkali diejek oleh teman-temannya karena keterbatasan ekonomi yang dimilikinya. Terutama karena ia tidak bisa membayar uang sekolah tepat waktu.

Seringkali dia belum mampu membayar sekolah dan menunggak karena hanya memiliki uang pasca panen raya setahun sekali. Kehidupannya pun apa adanya dan tidak seberuntung teman-temannya yang lain. "Kalau sudah panen, saya rapel bayarnya satu tahun," ujarnya.

Cerita Sebelumnya : Prof Rochmat Wahab Sering Diejek Temannya Karena Menunggak Bayar Sekolah

Perjuangan Rochmat waktu SD yang paling sulit adalah ketika dirinya akan mengikuti ujian negara. Pada waktu itu, peserta ujian negara diwajibkan membayar Rp 450 untuk boleh mengikuti ujian. Kondisi keterbatasan ekonomi Rochmat pada waktu itu diperparah dengan kebijakan sanering Presiden Soekarno yang memotong nilai mata uang dengan menghilangkan satu angka nol.

"Waktu itu tiba-tiba saja uang seribu jadi seratus rupiah. Tapi uang yang kecil-kecil tidak dipotong (hanya Rp. 1000 menjadi Rp. 100 dan Rp. 500 menjadi Rp. 50). Saya bingung bayar pakai apa ini uang ujian," ungkapnya.

Mengetahui kondisi Rochmat yang dilanda serba keterbatasan,salah seorang guru menawarkan dirinya untuk digratiskan dalam mengikuti ujian negara. Tawaran ini diberikan oleh sang guru dengan syarat Rochmat membantu sang guru mengumpulkan pembayaran teman-temannya.

Rochmat yang idealis dan sering diejek pada waktu itu menolak tawaran tersebut karena merasa dirinya sanggup dan tidak ingin dikasihani. Akhirnya Rochmat mengadu kepada sang ayah untuk meminta bantuan.

Ayah Rochmat yang pada waktu itu juga tidak memiliki uang pada akhirnya meminta Rochmat untuk menggembalakan dua kerbau yang dimilikinya selama empat bulan. Pekerjaan itu diberikan dengan janji akan membayar biaya ujian Rochmat setelah kewajiban Rochmat selesai dan kerbau tersebut dijual.

Rochmat pun akhirnya menyanggupi dan setiap sore menggembalakan kerbau tersebut. "Bayangkan saja, teman-teman saya pada belajar tapi saya tiap sore harus nyambi gembala kerbau," ungkapnya.

Hari pertama Rochmat menggembala kerbau, semua kerbau tersebut lari tak terkejar oleh Rochmat. Rochmat harus bersusah payah hingga matahari terbenam untuk mendekati secara perlahan kerbau-kerbau itu agar mau pulang dan tidak lari lagi.

"Lari semua itu kerbau. Takut saya kalau sampai makan kebun tetangga," ungkapnya. Pasca kejadian itu, Rochmat meminta sang ayah membelikan tali tampar untuk dikalungkan di lehernya dan mempermudah pekerjaannya menggembala kerbau.

Setelah kerbau tersebut memiliki ikat leher, Rochmat dapat dengan mudah menali kerbau tersebut di tengah padang rumput. Sembari membiarkan kerbau-kerbau tersebut makan, Rochmat mengisi waktu dengan belajar, menyiapkan tugas untuk esok hari, dan mengaji di bawah pohon kalor.

"Saya siapkan pertanyaan dan jawaban untuk kelas besok dan materi ujian. Juga saya isi dengan menghafal yasin, al rohman, al mulk, al fatah, al waqiah," ujarnya.

Perjuangan Rochmat itu akhirnya berbuah manis. Sang ayah memberikan upah yang dijanjikannya untuk membayar biaya ujian Rochmat. Hal inilah yang terus dikenang Prof. Rochmat Wahab untuk selalu berjuang dalam kondisi apapun. "Tidak asal nodong saja. Semua harus diperjuangkan. Termasuk cita-cita," ungkapnya. (Ilham Dary Athallah)

Sesudah lulus dari sekolah dasar, Rochmat Wahab kecil menghadapi dilema yang luar biasa. Teman-teman sekolah Rochmat mengenyam pendidikan lanjutan di berbagai sekolah favorit dalam dan luar kota Jombang. Baca kisah selanjutnya : Rektor Ini, Lulus SD Jadi Buruh Tani Demi Melanjutkan Sekolah.

 

Tulis Komentar Anda