Ada Laboratorium Seni Budaya dan Film di SMAN 2 Wates

Ilustrasi. (Foto: Doc)

WATES (KRJogja.com) - Guna memperkuat penerapan sekolah berbasis budaya, menyusul ditetapkannya sebagai salah satu model sekolah berbasis budaya sejak dua tahun silam, SMA Negeri 2 Wates Kulonprogo meresmikan Laboratorium Seni Budaya dan Film.  

Selain laboratorium, dilakukan pula peresmian green kantin dan ruang audiovisual serta meeting room oleh Kepala Bidang Perencanaan dan Standarisasi Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) DIY, Suroyo.

Menurut Kasek SMAN 2 Wates, Yati Utami Purwaningsih, laboratorium seni budaya dan film bantuan dari Dana Keistimewaan DIY sebanyak Rp 700 juta berupa bangunan dan peralatan. Keberadaan laboratorium tersebut merupakan penguatan program yang telah berjalan yakni SMAN 2 Wates sebagai model sekolah berbasis budaya.

"Berbagai kegiatan yang dilakukan baik yang terintegrasi dalam kurikulum maupun dalam bentuk ekstrakurikuler. Bentuk kegiatan tidak hanya seni budaya yang berupa tradisi tapi ada juga pembudayaan nilai-nilai moral diterapkan ke siswa. Seperti nilai moral untuk kerjasama, sopan santun, etika, saling menghargai. Di sekolah juga mengangkat ornament-ornamen yang merupakan batik-batik khas Kulonprogo dengan ciri gebleg renteng yang dikembangkan sesuai kreativitas dan imajinasi siswa,” tuturnya, Rabu (14/12/2016).

Yati mencontohkan nilai-nilai moral yang diterapkan diantaranya pembudayaan senyum salam sapa dan setiap pagi juga dibiasakan jumput sampah sebagai budaya kepedulian lingkungan. Penerapan sekolah berbasis budaya di SMAN 2 Wates merupakan yang pertama di Kulonprogo. Pihaknya mengajak sekolah lain bekerjasama menjadikan Kulonprogo sebagai pusat budaya. Apalagi di sini akan dibangun bandara internasional, sehingga penguatan budaya pada siswa diperlukan sebagai benteng terhadap dampak negatif yang akan timbul.

“Kehadiran bandara pasti akan menimbulkan nilai positif dan negatif. Karena itu dengan adanya pengutan budaya maka anak didik sudah punya benteng. Nilai-nilai luhurnya tetap dipegang siswa sehingga tidak terpengaruh. Prinsipnya siswa tidak boleh keluar dari budaya ketimuran,” ujarnya. (Rul)

 

Tulis Komentar Anda