Wedang Uwuh Cak Nun

Pengabdian kepada Materi

Foto: Repro KR

MEMANG Pèncèng yang paling 'ngèyèl' di antara ketiga sahabat saya ini. Meskipun sudah menyetujui permintaan saya untuk ikut meneliti dan menyiapkan bahan untuk tulisan 'Wedang Uwuh', ia mempertanyakan: "Contoh tulisan atau cara melihat masalah yang Simbah contohkan, menurut saya tidak populer bagi pembaca atau masyarakat umum."

"Kenapa?" saya bertanya.

"Para pembaca membutuhkan bahan-bahan keyogyaan yang lebih sederhana, yang sehari-hari. Juga cara penulisan yang mudah, bersahaja, dan tidak 'muluk-muluk'," jawabnya.

"Yang mana yang muluk-muluk di antara yang saya ungkapkan kepada kalian?" saya coba membantah.

Ternyata Gendon yang menjawab. "Menurut saya itu bukan soal 'muluk atau sederhana, Cèng. Yang diuraikan Simbah itu keberangkatannya adalah nilai dari sesuatu hal, bukan materinya."

"Saya sependapat dengan Gendon," Beruk menyahut, "Misalnya kalau bicara tentang Merapi, yang diungkapkan adalah makna sejarahnya, koordinat nilainya dalam desain tata-kosmos Ngayogya. Kalau omong tentang Malioboro, tidak terutama modernitasnya, mal dan toko-tokonya, ekspresi industrinya atau kekhasan artistiknya. Tetapi coba dipahami hulu-hilir nilai Malioboro, umpamanya dadiya Wali kang ngamboro…" Saya menikmati perdebatan mereka.

Dan Gendon melengkapi pandangannya. "Masyarakat di era sekarang ini dibiasakan oleh budaya industri untuk hanya peka terhadap materi, tanpa ada pertumbuhan kritisisme nilai terhadap materi…"

"Apa yang salah dengan materi?" Pèncèng membantah, "Manusia adalah juga makhluk materi."

Gendon tidak terlalu meriah dan agresif seperti Pèncèng, tapi tidak berarti ia pasti kalah debat pengetahuan dan ilmu. "Memang materi adalah bagian yang paling kasat mata dan konkret dari kehidupan manusia. Negara juga materi. Kraton Yogyakarta juga materi. Semua isi toko-toko Malioboro adalah materi. Tapi materi adalah bagian yang rendah dan temporer dari manusia."

"Saya tidak membantah itu," kata Pèncèng, "yang saya persoalkan adalah kebutuhan masyarakat yang lebih sederhana dan sehari-hari, bukan filsafat nilai yang 'ndakik-dakik'."

Beruk tertawa kecil. "Simbah jangan dengarkan mereka," katanya, "sebenarnya tidak ada sesuatu yang perlu mereka perdebatkan. Mereka hanya senang berdebat di antara mereka."

"Tapi bagus kok," saya merespons, "manusia yang didominasi materi akan menjadi batu, manusia yang terlalu dikuasai nilai atau rohani akan menjadi hantu. Pèncèng dan Gendon sedang jalan-jalan di antara batu dan hantu…"

"Saya serius, Mbah," kata Gendon, "dua puluh tahun terakhir ini masyarakat dijauhkan dari nilai oleh kekuasaan atmosfer industri, sehingga ada dua akibatnya. Pertama, konsentrasi mereka terserap oleh segala sesuatu yang sifatnya materialistik. Kedua, kalaupun mereka punya kesibukan dengan nilai, bersekolah di fakultas-fakultas yang seolah berkaitan dengan nilai-nilai rohani, atau menjadi aktivis dari pergerakan yang seakan-akan mengurusi nilai – tetapi semua itu dipersembahkan kepada cita-cita dan perolehan materi."

"Ada contohnya, Ndon?" saya kejar.

"Orang jadi sarjana untuk meraih materi yang lebih besar. Orang mengurusi agama dengan ukuran-ukuran materi. Pembangunan negara seratus persen pertimbangannya adalah materi. Bahasa jelasnya, nilai dan rohani diabdikan kepada nafsu materi…." (*)

Tulis Komentar Anda