Tips Creativepreneur Ala Erix Soekamti, Jangan Banyak Mikir

Erix Soekamti (Foto : Nisa Mutia Sari)

MENCARI dan membuat solusi atas masalah yang terjadi, itulah yang disebut dengan kreatif. Erix Soekamti, musisi dan motor di grup musik Endank Soekamti menyadari betul hal itu. Untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi ia menggunakan daya kreatif yang dimiliki. .

Menurutnya untuk menjadi seorang creativepreneur jangan  banyak mikir. Lakukan saja. Karena ketika kita melakukan itu, kita akan kepentok dengan banyak masalah. Disitulah seseorang akan menjadi kreatif. Dan untuk para start up muda, jangan terlalu mengandalkan investor.

“Kalau bisa berdiri sendiri, berdiri sendiri lah. Kalau tetap berpikiran akan ada investor masuk, itu sama aja nggak bersyukur dengan apa yang diberikan Tuhan” tuturnya.

Erix mengaku mampu memecahkan masalah melalui ide kreatifnya. Dengan menggunkan ide untuk mencari solusi dengan runtutan seperti identitas, ide, kreatifitas dan inovasi. Berawal dari identitas, mengenal diri sendiri dengan segala potensi sehingga bisa mengetahui apa yang harus dilakukan.

Kedua, ide, dimana menggunakan identitas untuk membuat gagasan. Ketiga, kreatifitas, menggunakan ide untuk memecahkan solusi. "Keempat, menggunakan kreatifitas untuk menciptakan peluang baru," katanya saat ditemui usai menjadi pembicara di Seminar Digital Creativepreneur di UMY yang digelar XL Axiata belum lama ini.

 Menurut Erix hal itu pula yang ia lakukan dengan membentuk DOES University yang merupakan solusi dari masalah yang terjadi pada diri Erix pribadi. Dimana Ia merasa kecewa dengan sistem kurikulum di sekolahnya dulu.

Kemudian ia berniat membuat sekolah informal dengan kurikulum yang disukai oleh para peminatnya. Dibentuklah DOES University yang namanya diambil dari film dokumenter Erix, Diary of Erix Soekamti.

“DOES University adalah sekolah bakat gratis. Mengajarkan murid-murid yang pengen diajari, dengan apa yang mereka suka. Belajar dari pengalaman sebelumnya, bahwa apa yang kita suka itu akan cepat sekali dipahami,” cerita Erix kepada Krjogja.com.

Does University berdiri sejak 16 Desember 2015. Sekolah informal gratis ini bergerak pada bidang animasi. Para pengajar yang dipilih merupakan para tenaga kerja yang memang relevan di bidang industri. Hingga saat ini, sudah terdapat 58 murid yang bergabung.

Mereka tidak hanya berasal dari Jogja saja, melainkan ada dari Kalimantan, Makassar dan Jakarta. “DOES University didirikan berdasarkan kebutuhan industri yang ada. Cenderung melihat serapannya terlebih dahulu. Kesempatan yang dibuka pertama kali adalah di bidang animasi,” ceritanya.

Hal tersebut dilakukan oleh Erix sebagai kerja nyatanya, untuk menghasilkan sumber daya manusia yang ke depannya mampu memberikan dampak bagi orang-orang di sekitar. “Kita ingin berkonstribusi real untuk membuat SDM-nya. Sehingga nanti sumber daya itu menjadi animator-animator yang bisa langsung kerja. Kalau pun nggak bekerja, nanti akan membuka lapangan kerja sendiri. Dari tidak bisa, menjadi mandiri dalam bekerja. Merdeka dalam berkarya,” kata Erix, Bassist dan vokalis dari Endank Soekamti.

Karya dari murid-murid Does University dapat dilihat di channel Youtube ‘Soekamti Junior’. Konten yang mereka buat adalah anak-anak, dimana lagu anak jaman dulu dibikin ulang. Mereka yang membuat animasi, kemudian Endank Soekamti membantu untuk musiknya, sehingga melakukan kolaborasi terus-menerus. (Nisa Mutia Sari)

Tulis Komentar Anda