Kisah Profesor Danisworo Keliling Dunia Karena Geologi (1)

Tahun 1980, ada ekskursi geologi Belgia, Perancis dan Luxembourg. Di sini tempat camping di luar kota, menuju Arden, Belgia Selatan, dekat perbatasan dengan Perancis. (Dok : Prof Danisworo)

BERAWAL dari ketertarikannya dengan dunia traveling, geologi membawa Prof Dr C Danisworo MSc keliling dunia. Guru besar di Universitas Pembangunan Nasional 'Veteran' Yogyakarta ini berbagi kisah hidupnya untuk menginspirasi generasi muda.

Di kampus, ia kerap dipanggil Prof Danis. Dosen tetap di program sarjana dan pascasarjana Fakultas Teknik Geologi UPN 'Veteran' Yogyakarta ini sering menyelipkan cerita bagaimana karena geologi membawanya keliling 5 benua. Terpenting adalah ia bisa berbagi ilmu ke banyak orang.

Mengawali pencarian ilmunya di bidang geologi sejak SMA, beliau memilih bersekolah di STM Negeri Pertambangan Yogyakarta tahun 1966. Setelah itu melanjutkan studi D3 di PTPN (sekarang UPN) Jurusan Teknik Geologi. Kecintaannya pada geologi membuatnya melanjutkan mengambil S1 kembali di PTPN.

Selama masa kuliah, beliau mengaku aktif mengikuti dosen, survei ke pelosok, menjadi asisten, dan lain-lain. Hal itu dijalani sambil mencari informasi beasiswa ke luar negeri. Keinginannya melanjutkan studi di luar negeri dipengaruhi oleh adiknya yang sering keluar negeri berkat menari.

“Kami ikut kelompok menari di tingkat RT. Karena adik saya yang paling aktif menari, dia sering pergi ke luar negeri. Dari situ saya kepengen karena sering liat film (foto) yang dia tunjukkan. Tapi saya kurang aktif menari karena mementingkan studi. Makanya sejak saat itu saya bertekad harus bisa keluar negeri karena studi,” kenang Prof Danis yang saat berbincang dengan KRjogja.com akhir November lalu baru saja pulang dari Afrika Selatan sebagai penyaji Kertas Kerja di 35th International Geological Congress 2016, Cape Town, Afrika Selatan.

Guru besar kelahiran Yogyakarta 19 Februari 1948 ini mengatakan mencari info beasiswa pada saat itu tidaklah mudah. Bertahun-tahun dilalui namun tidak ada kabar. “Pernah waktu itu ada orang dari perusahaan asing, saya kejar sampai ke hotel untuk tanya cara mendapat beasiswa. Dia ajarkan saya untuk mendapat surat rekomendasi dan hal-hal lainnya,” kenang beliau sambil tersenyum.

Prof C Danisworo Msc

Penantiannya membuahkan hasil. Suatu saat muncul informasi beasiswa dari Departemen Pertahanan, dan dibutuhkan hanya 1 geologist. Atas kesempatan itu, maka berangkatlah Prof Danis pada tahun 1981 untuk melanjutkan studi S2 di Vrije Universiteit Brussel, Belgie mempelajari tentang Geologi Kuaternari.

Setelah itu dilanjutkan studi S3 di kampus yang sama juga setelah mendapat beasiswa dari UNESCO dan berkosentrasi mempelajari Geologi Masa Kini, yaitu segala hal yang berkaitan dengan geologi dari yang terjadi 2,58 juta tahun yang lalu hingga sekarang.

Menjadi mahasiswa asing tentu tidaklah mudah. Banyak hal sulit yang harus dilalui. “Kesulitan terbesar saya waktu itu adalah bahasa. Program kami memakai bahasa Inggris, kampus memakai bahasa Belanda, tapi masyarakat di luar berbahasa Prancis," kata Prof Danisworo yang juga menjadi anggota Dewan Pendidikan DIY.

Meski sudah mengambil kursus privat bahasa Inggris, namun saat itu Prof Danisworo tetap mengambil kelas tambahan di kampus saat weekend. "Selain itu saya juga kursus bahasa Belanda, dan setelah lulus baru berani ambil kursus bahasa Prancis karena takut tercampur aduk,” cerita beliau.  (Lucia Yuriko)

Bersambung : Prof Danisworo Tolak Tawaran Unesco, Pilih Jadi Dosen (2)

Tulis Komentar Anda