Wedang Uwuh Cak Nun : 'Orong-orong Ngayogyakarta'

Wedang Uwuh Cak Nun

MENJELANG Subuh kami turun dari Merapi, mampir di sebuah warung angkringan sebelum masuk kota Yogya. Seperti biasa kalau kami jagongan di warung, Gendon pesan teh nasgithel, Beruk wedang jahe, Pèncèng bikin sendiri kopi joss celup areng. Dan saya pastilah menikmati wedang uwuh.

"Orang kok minum sampah…," celetuk Pèncèng.
"Padahal manusia itu makhluk istimewanya Tuhan," Gendon nambahi.
Beruk tidak mau kalah: "Makhluk masterpiece. Ahsanu taqwim… tapi ngombe larahan…"
Saya diam-diam menikmati 'cangkeman' kemesraan anak-anak muda ini. Itung-itung mengurangi tradisi feodalisme, juga kesenjangan budaya dan psikologis antar-generasi.

Bahkan justru momentum ini saya manfaatkan untuk menegaskan kepada mereka tentang 'dawuh' yang tadi sedikit sudah saya sampaikan. Mereka bertiga saya minta untuk rajin keliling ke wilayah-wilayah ke-Yogya-an, mengamati, merasakan, menghirup, menghayati, meneliti, dan berusaha menemukan mutiara-mutiara keistimewaan rakyat Yogya.

Yogya itu mutiaranya Indonesia. Batu mulia. Akik. Yaqut. Kalau Indonesia menelusuri zaman tanpa Yogya, itu seperti ksatria berjalan tanpa keris. Kalau NKRI minus Yogya, ia 'growak', ada lubang gelap dalam bangunan karakternya. Ia tidak punya kasepuhan. Tidak diayomi pusaka.

Ini bermakna komplet dan komprehensif. Bukan hanya atmosfer kotanya sebagai Ibukota Kebudayaan Indonesia. Bukan hanya substansi hakiki konsep dan filosofi sejak didirikannya Ngayogyahadiningrat. Bukan hanya keteduhan dan ketenteraman tata kotanya. Bukan hanya suasana kebhinekaan budayanya.

Tapi entah kapan, pada suatu hari, sejarah Indonesia akan tiba pada keperluan untuk benar-benar bercermin kepada Yogya dalam hal penataan kembali konstitusinya, formula kenegaraannya, sistem kepemerintahannya, atau konstruksi dan skala prioritas cita-cita nasionalnya.

Pèncèng, Beruk, dan Gendon saya minta dengan penuh semangat untuk turut mengolah proses ditemukannya kembali kemutiaraan Yogyakarta di tengah silang sengkarut zaman, pada skala nasional maupun global, yang semakin kehilangan 'Orong-orong dan Kayu Jati'-nya.

Kanjeng Sunan Kalijaga terlambat datang untuk memenuhi kewajibannya mendirikan salah satu tiang Masjid Glagahwangi Demak Bintoro. Tergopoh-gopoh sehingga secara darurat hanya bisa mengumpulkan tatal-tatal serpihan kayu jati, dipotongi, dihimpun, dan diikat menjadi batangan tiang.

Seekor orong-orong terpotong lehernya oleh pekerjaan tergesa-gesa Kanjeng Sunan. Kepalanya lepas dari tubuhnya. Beliau langsung melakukan evakuasi dan recovery. Ambil serpihan kecil tatal itu, beliau sambung kepala orong-orong ke badannya.

Pada suatu saat Kanjeng Sunan berbisik kepada Sunan Kudus salah satu yuniornya: "Wajib kita temukan sambungan antara Penangsang dengan Karebet dan Jebeng Sutawijaya. Penduduk Tanah Jawa menemukan kembali jati dirinya, itulah sebabnya serpihan kayu jati yang saya pakai untuk menyambung kepala dan badan Orong-orong dulu itu. Jangan sampai Bangsa Jawa tinggal badan dan kalbunya saja tanpa kepala dan akalnya, atau sebaliknya…"

Kemudian saya katakan kepada Pèncèng, Gendon, dan Beruk: "Kalian saya minta untuk mencari serpihan kayu jati Yogya, agar Ibu Pertiwi tidak menjadi bangkai dan uwuh, karena Orong-orongnya yang terputus lehernya. Kalian harus bergilir menulis Wedang Uwuh…"

 

Tulis Komentar Anda