Belum Lama Dibersihkan, Sampah Visual Muncul Lagi

Tembok utara Tugu Yogyakarta kembali kotor oleh sampah visual setelah sebelumnya dibersihkan. (Foto : Satriyo Wicaksono)

YOGYA (Krjogja.com) – Poster-poster acara kembali tertempel di tembok milik warga yang berada di sisi utara Tugu Yogyakarta. Padahal, sebelumnya Jogja Garuk Sampah sudah membersihkan ratusan poster yang menempel di tembok tersebut pada peluncuran Gerakan Jogja Bersih, Minggu 6 November 2016.

Ketika diberi informasi mengenai adanya poster yang menempel di tembok tersebut, Bekti Maulana selaku Koordinator Jogja Garuk Sampah langsung menghubungi pihak panitia yang menempalkan poster acaranya secara sembarangan dan tidak memperhatikan etika pariwara Indonesia.

Bekti menghubungi pihak panitia melalui pesan langsung di Instagram. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya terdapat balasan dari panitia. Namun, balasan tidak sesuai dengan harapan Bekti. Menurutnya, respon panitia masih menganggap remeh karena tidak adanya permintaan maaf.

Karena itu, ia mengundang relawan untuk garuk sampah (pungut sampah) pada hari ini Senin (21/11/2016) di sepanjang rute Kirab Budaya Kebangsaan, mulai pukul 19.00 WIB. Titik kumpul di Taman Parkir Abu Bakar Ali, kemudian berjalan kaki menuju Tugu Yogyakarta. "Sekalian membersihkan poster-poster yang mengotori tembok di utara Tugu Yogya," kata Bekti saat dihubungi KRjogja.com, Minggu (20/11/2016) malam.

Relawan Jogja Garuk Sampah saat membersihkan sampah visual pada Minggu 6 November 2016

Lokasi yang sebelumnya bersih dari sampah visual kembali kotor oleh poster, foto diambil Minggu (20/11/2016)

Bekti juga mengungkapkan bahwa peraturan walikota yang diluncurkan beberapa waktu lalu terdapat banyak keambiguan. Seperti tidak ada yang mengatur tentang poster.

Sehingga, dalam bertindak Bekti tidak menggunakan peraturan walikota sebagai patokannya, melainkan peraturan-peraturan yang tertera dalam etika pariwara Indonesia. “Peraturan walikota harus diubah atau ditambah, kemudian ditegakkan dengan maksimal,” ujarnya.

Masyarakat pun mulai terganggu dengan adanya poster-poster yang tertempel sembarangan. Beberapa dari mereka ingin menegur dan melarang, tetapi merasa takut karena jumlah pelaku yang lebih banyak. Akhirnya, masyarakat pun hanya bisa melepas poster yang tertempel setelah pelaku pergi.
 
“Saya pernah menanyai salah satu pemilik rumah yang menjadi korban penempelan poster. Beliau ini mengatakan ke saya bahwa ia merasa terganggu dengan tempelan-tempelan ini. Mau menegur dan melarang tapi takut karena jumlah pelaku lebih banyak,” pungkasnya. (Mg-10)
 

Baca Juga :

Herry Zudianto : Sampah Bukan Hanya Program Pemerintah !

 

 

Tulis Komentar Anda