Kursi Roda Tak Menghilangkan Cita-cita Fahmi Jadi Programmer (2)

Fahmi, punya cita-cita jadi programmer dan entrepreneur. (Foto : Lintang Fajar Nugrahani)

TRAUMA karena perundungan atau bullying saat masih di Sekolah Dasar (SD) membuat Muhammad Fahmi Husein (19) menjadi anak yang minder. Ia bahkan sempat vakum di masa SMP. Selain itu, kondisi tubuhnya karena DMD semakin memburuk. Ia tidak bisa berjalan lagi sehingga mengandalkan kursi roda untuk aktivitas sehari-hari.

Seperti dikisahkan sebelumnya Fahmi menderita sakit yang sangat jarang yaitu Duchenne Muscular Dystrophy (DMD). Kondisi Fahmi ini disebabkan oleh kurangnya Dystophrin, protein yang berperan untuk pertumbuhan dan integrasi otot. Akibatnya kondisi perkembangan otot tidak berjalan sebagaimana seharusnya. Pengidap MD mengalami degenerasi otot yang terus menerus.

Saat SMP Fahmi sempat vakum selama satu tahun. Ia baru masuk pada tahun berikutnya, walaupun hanya ketika ujian. Meski jarang masuk sekolah, Fahmi tidak tinggal diam. Ia aktif mengikuti lomba dan kegiatan di luar sekolah. Saat SMP kelas 7 ia mengikuti Indonesia ICT Award. Gelar juara tiga di ICT ia raih dua tahun kemudian ketika duduk di bangku kelas 9.

Saat melanjutkan ke SMA Muhammadiyah Turi, cerita yang berbeda terjadi. Seperti sebelumnya, Fahmi baru masuk ketika UTS pertama di SMA. Alasannya sama, minder dan trauma perlakuan teman-temannya ketika SD.

Justru di SMA, perlakuan sebaliknya ia terima. Teman-teman satu angkatan memintanya untuk tetap masuk sekolah. “Mangkat wae, Mi. “Mangkato terus, Mi.” Hal itu kemudian menjadi pacu bagi Fahmi untuk selalu hadir di kelas.

Ketika SMA ia juga berhasil meraih medali perak pada OSN difabel dengan karya ilmiahnya yang berjudul Pemanfaatan Kulit Markisa Menjadi Plastik. Saat ini ia dan rekannya Rissa Restu Budi Rahayu sedang mempersiapkan untuk maju ke tingkat nasional dalam ajang Toyota Eco Youth 10 di Jakarta. Karya yang akan dipertandingkan ialah Bio Etanol dari Buah Salak.

“Saya merasa sehat dan nggak ada penyakit itu pas ikut kompetisi,” ujar anak muda yang selain bercita-cita jadi programmer juga entrepreneur.

Pemuda kelahiran 18 Mei 1997 ini sebetulnya bercita-cita masuk ke Teknik Mesin UGM. Mulai dari SBMPTN hingga Ujian Tulis 2, seleksi terakhir memasuki UGM ia coba. Teknik Mesin dirasa tidak memungkinkan bagi Fahmi ketika harus praktek lapangan. Sehingga akhirnya pilihannya jatuh pada Ilmu Komputer.

“Saya sering banget minder dan punya banyak ketakutan. Akan tetapi semakin kesini semakin bisa mengatasi. Semasa SMA kemana-mana teman seangkatan yang bantu. Kalau sekarang di kuliah, alhamdulillah temen-temen ngerti. Ada satu mata kuliah yang kelasnya di lantai dua dan tanpa lift, teman-teman bantu saya naik. Ada asisten pendamping juga,” ujar Fahmi.

Selain itu, banyak orang yang peduli, sehingga ia dapat menjalani terapi Stemcell di India pada Juli 2015 secara gratis. Sejak saat itu proses degenerasi selnya terhenti.

Fahmi pernah lama terpuruk karena penyakit yang semakin lama membuatnya semakin terbatas dalam bergerak. Sekarang, ada hal yang penting yang harus disampaikan untuk teman-teman dengan kondisi sepertinya.

 “Jangan takut berkarya walau banyak hambatan dan keterbatasan, sebenarnya kita sendiri yang menghambat dan membatasi diri,” pesannya. Ia percaya bahwa apapun persangkaannya terhadap Sang Pencipta, Allah pasti punya rencana yang lebih indah. (Lintang Fajar Nugrahani)

Tulis Komentar Anda