Soal Nama, PKL dan Walikota Belum Sepakat

Walikota bersama Direktur Utama (Dirut) BTN makan nasi kucing pada salah satu kios shelter Taman Sriwedari. (Hari D Utomo)

SOLO (KRjogja.com) - Pedagang Kaki Lima (PKL) gerobag kuning yang semula mangkal di kawasan city walk Jalan Slamet Riyadi, resmi menempati shelter di arel parkir sisi Selatan Stadion Sriwedari.  Saat upacara penempatan, pedagang sempat menamai tempat berjualan itu dengan sebutan shelter Bonrojo, namun Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo kukuh menamainya sebagai shelter Taman Sriwedari.

Walikota FX Hadi Rudyatmo menegaskan, nama Taman Sriwedari lebih dikenal masyarakat ketimbang Bonrojo, sehingga memudahkan promosi. Selain itu, istilah Bonrojo muncul ketika kawasan Taman Sriwedari masih menjadi kebun binatang peninggalan Keraton Kasunanan Solo yang sekarang dipindahkan ke Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ).

Ketika Ketua paguyuban PKL gerobag kuning, Sukirno menyampaikan sambutan, tanpa diduga menamai fasilitas kuliner baru semi permanen itu dengan sebutan shelter Bonrojo. Alasannya, lokasi shelter merupakan bagian dari kawasan Taman Sriwedari yang dulu juga dikenal dengan istilah Bonrojo, sehingga terjadi kesinambungan kesejarahan. Selain itu, pedagang juga meminta tambahan fasilitas berupa gerobag baru, meja, serta kursi, agar konsumen lebih nyaman.

Hanya saja, Walikota yang akrab disapa Rudy, tidak menyetujui penamaan tersebut, bahkan dikatakannya sebagai keputusan sepihak. "Tidak usah pakai nama Bonrojo, nanti pedagang malah 'kabotan jeneng' karena membawa nama raja," ujar Rudy sembari memaparkan, sebutan Taman Sriwedari justru lebih familiar, terutama bagi warga luar kota Solo.(Hut) 

 

Tulis Komentar Anda