Rasa Raharja Tekan Biaya Produksi Batik

Aktifitas pembuatan batik tulis yang hemat (Dasih)

TINGGINYA biaya produksi batik tulis konvensional Kebumen membuat prihatin Rasa Raharja, perajin batik yang juga staf Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Sosial (Nakertransos) Kebumen. Inovasi dilakukannya guna menekan tingginya biaya produksi.

"Penghematan biaya produksi berimbas harga batik Kebumen lebih murah dan daya saingnya di pasaran meningkat. Namun jangan salah berpersepsi,  penghematan biaya produksi bukan berarti menurunkan mutu, melainkan teknik pembuatannya yang diubah menjadi lebih efisien," ujar Rasa yang juga  instruktur batik tulis UPTD Balai Latihan Kerja (BLK) Kebumen, di bengkel kerjanya, Kelurahan Selang Kecamatan/Kabupaten Kebumen, Minggu  (13/11/2016).

Menurut Rasa, batik Kebumen yang memiliki banyak warna menyebabkan perajin harus berulangkali mengganti lilin batik atau malam setiap usai mencelupkan kain pada pewarna. "Selain menguras tenaga dan memakan banyak waktu, sistem pewarnaan konvensional itu membuat tingginya biaya pembelian lilin dan ongkos tenaga kerja. Agar  ada penghematan biaya maka harus ada terobosan tanpa menurunkan kualitasnya.  Selain itu, batik yang dihasilkan pun tak keluar dari koridor atau esensi  batik tulis itu sendiri,"jelas Rasa.

Inovasi yang ditularkan Rasa kepada sejumlah perajin batik Kebumen sejak 2015 lalu adalah menyederhanakan proses pewarnaan. Proses 'nembok'atau  menutup bagian kain dengan lilin batik dan 'mlorot' atau merebus kain untuk menghilangkan lilin dari kain secara berulangkali, ditiadakan.

" Sebagai gantinya, perajin cukup mengoleskan pewarna ke atas kain dengan kuas. Pewarnanya harus dipilih yang berkualitas bagus dan memiliki daya  serap yang kuat terhadap kain. Sedangkan saat pewarnaan kain harus dibentangkan secara horisontal bukan vertikal," jelas Rasa.(Dwi)

Tulis Komentar Anda