Menilik Peran Orang Tionghoa di Palagan Surabaya 10 November

Koran KR 17 November 1945 (Dok: Arsip KR)

PERAN ulama dan santri dalam Palagan Surabaya 10 November 1945 tidak diragukan. Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh Nahdlatul Ulama pada 22 Oktober 1945 menjadi bahan bakar bagi perjuangan rakyat Surabaya menghadapi Inggris dan NICA di kota mereka.

Salahsatu yang mungkin tidak banyak orangtahu adalah peran etnis Tionghoa dalam pertempuran melawan Inggris tersebut. Koran Kedaulatan Rakyat mencatat kiprah mereka bahu membahu dengan seuma komponen bangsa dalam perjuangan melawan sekutu.

Dalam artikel koran tersebut digambarkan bahwa tentara penduduk Tionghoa turut serta menjaga keamanan dan mendapat bantuan dan sambutan yang hangat dari kaum pemberontak, terlebih lagi setelah kampung pecinan di Surabaya telah diluluhlantakkan oleh gempuran pesawat sekutu.

Dalam buku Tionghoa Dalam Sejarah Kemiliteran: Sejak Nusantara Sampai Indonesia (2014) karya Iwan Santosa, dijelaskan bagaimana heroisme warga Tionghoa pada pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, Jawa Timur. Dalam pertempuran itu, warga Tionghoa menyebut diri sebagai TKR Chungking dan membawa bendera Kuo Min Tang sebagai identitasnya.

Perlengkapan tempur yang digunakan juga sedikit berbeda dengan pejuang lainnya, mereka menggunakan Fritz Helmet yang digunakan pasukan Wehrmacht (Jerman), lengkap dengan senapan Karaben (Kar) 98-K yang didapatkan dari Nazi Jerman pada 1930-an.

Tak hanya ikut dalam pertempuran, warga Tionghoa juga terlibat dalam pengobatan terhadap pejuang yang terluka. Korps medis ini diberi nama Barisan Palang Merah Tionghoa. Satuan ini diberangkatkan dari RS Militer di Malang dan mendapat tugas untuk memasok ransum bagi para pejuang yang berasa di garis depan.

Misalnya Letnan Kolonel (Purn) Ong Tjong Bing alias Daya Sabdo Kasworo. Pria asal Desa Kerebet itu mengikuti pendidikan tekniker gigi dan dokter gigi lalu bergabung dengan militer pada 1953 sebagai pegawai sipil. Dia mulai menyandang pangkat militer sebagai kapten pada 1955 di bawah Resimen Infanteri RI-18 Jawa Timur.
 
Para pemuda Tionghoa dari Malang juga bergabung dengan Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) yang dipimpin langsung oleh Bung Tomo. Mereka adalah Giam Hian Tjong dan Auwyang Tjoe Tek.
 
Selama berlangsungnya pertempuran mempertahankan Surabaya dari serangan pasukan sekutu, warga Tionghoa telah mendirikan 10 pos dengan 10 dokter ditambah tenaga medis lainnya. Seluruh biaya ditanggung sepenuhnya oleh organisasi Chung Hua Chung Hui. Tak hanya sebagai tenaga medis, beberapa di antaranya ikut terlibat dalam serbuan 'berani mati' saat penyerbuan ke sarang serdadu sekutu dan Gurkha.
 
Serangan demi serangan yang sebagian besar diarahkan ke warga membuat rakyat Indonesia marah, tak terkecuali warga Tionghoa, mengingat sebagian besar korban merupakan orang Tionghoa. Apalagi, pos kesehatan yang didirikan juga ikut diserang sekutu.

5.000 Orang Tionghoa Terluka atau Mati

Koran KR edisi 21 November 1945 diantaranya memuat berita berjudul 5.000 Orang Tionghoa Mati atau Terluka di Surabaya. Berita tersebut berisi informasi dari Pemimpin Palang Merah Tionghoa Kapasari Surabaya yang memberi kabar bahwa antara 10-17 November, korban penduduk Tionghoa di Surabaya sebanyak 5.000 orang Tionghoa mati atau luka-luka.

Kantor PMI Tionghoa yang berada di depan kantor PRI ditembaki dengan mitralyur atau senapan mesin sehingga salahsatu pemimpin Palang Merah, Tjoa Hong Siang mengalami luka-luka. Tiap hari Pusat Rumah Sakut Umum dibanjiri oleh korban.

Berita tersebut juga menceritakan bagaimana kelakuan serdadu Gurkha yang merampok kambing, ayam, dan ternak-ternak milik penduduk. Hal ini menunjukan bahwa serdadu sekutu, kelaparan. Diberitakan juga dikolom tersebut dua kapal musuh rusak hebat serta satu pesawat terbang hancur. Pertempuran terus berlangsung. Mulai 18-11 Pusat Rumah Sakit Umum Surabaya akan dipindahkan keselah satu tempat di Jawa Timur. (Mg-21/Apw)

Tulis Komentar Anda