LAIN DUNIA

Kotak Warisan Emoh Dibuka...Ternyata?

Foto: Repro Merapi

SETELAH Pakdhe  meninggal,  rumahnya suwung. Maklum, kelima anak Pakdhe semua bekerja di Jakarta. Budhe sudah lebih dulu meninggal, dua tahun sebelumnya. Rumah Pakdhe hanya dijaga Mbok Yem, pembantu tua yang sudah mengabdi sejak mereka masih kecil.

Setahun  setelah  Pakdhe  meninggal, Dimas (ragil Pakdhe) datang. Perusahaan tempatnya bekerja  itu  gulung  tikar. Maklum,  lagi  krisis moneter. Iapun kena PHK. Untuk menenangkan diri pasca PHK, Dimas memilih pulang kampung. ”Daripada di Jakarta ndak  ada  pemasukan, harus bayar kos terus mending saya cooling down dulu di kampung,” batinnya.  

Apalagi dia  juga  ditugasi kakak-kakaknya untuk mengurusi harta peninggalan orang tuanya. Beberapa hari di rumah, Dimas mulai men-cari-cari harta peninggalan orang   tuanya. Lemari-lemari dibuka, laci-laci meja dibersihkan untuk mencari  surat-surat  penting. Sampai berhari-hari hasilnya nihil. Seminggu kemudian, tanpa sengaja ia melihat gudang yang sudah lama dikunci. Dulu waktu masih  kecil, ia sering  bersembunyi  di  sana.

Setelah kunci  gudang  ditemukan dia segera membuka pintu gudang. Di dalamnya sangat kotor penuh debu dan sarang laba-laba.Ia melihat ada  sepeda mainannya  yang  rusak,  boneka kakaknya yang kotor, ada dus-dus yang berdebu.

Karena tidak ada yang bagus, ia pun berniat menutup pintu gudang lagi. Tapi sebelum bisa ditutup tanpa sengaja matanya melihat ada kotak antik di sudut gudang. ”Eh, apa itu ya?” batinnya heran. ”Ini kotak milik ibu.” kata Mbok Yem sambil membersihkan kotak antik itu. Kotak itu terbuat dari kayu jati dan sangat berat sehingga Dimas perlu dibantu Mbok Yem. ”Kotak ini lebih tua dari kamu,” kata mbok Yem.

”Baguslah Bik kalo bapak punya barang tua begini. Nggak ada yang mau barang tua ini. Tapi dibuka dulu, barangkali ada isinya yang berharga. Kalau tidak, dijual murah saja ketimbang mengotori gudang. Mendengar itu, perempuan tua  yang  mengasuhnya  sejak  kecil  itu  menggerutu. ”Dasar anak durhaka. Barang antik ini harganya mahal, main buang saja.” batinnya. Peti kuno itu terkunci. Kuncinya hilang entah di  mana,  karena  sudah  puluhan  tahun  tidak dibuka. Berhari-hari Dimas mencarinya, tidak ketemu.

Akhirnya dengan perasaan jengkel campur marah Dimas pergi ke tukang kunci untuk membuka paksa. Sudah beberapa tukang kunci dipanggil, namun mereka gagal membuka peti kuno itu. Apalagi peti itu kuncinya juga kuno yang langka.

Sampai suatu malam, Mbok Yem bermimpi, almarhumah ibunya datang dan mengeluh. ”Peti kok dibongkar bongkar. Mau diapakan peti saya?” Sekian lama peti itu belum juga bisa dibongkar, tapi setelah suatu kali semua keluarga berkumpul, ternyata berisi benda berharga. (*)

 

Tulis Komentar Anda