SEPUTAR 10 NOVEMBER 1945

Inggris Merasakan 'Atom' Rakyat Surabaya

Koran KR edisi 30 Oktober 1945 (Dok:Arsip KR)

TENTARA Inggris yang berkekuatan 6.000 serdadu nyatanya terdesak oleh kekuatan pejuang di Surabaya. Sikap pongah mereka ketika datang dijawab dengan kewaspadaan. Tanggal 29 Oktober 1945, Mayor Jendral DC Hawthorn meminta Presiden Soekarno untuk mendinginkan suasana. Tentara Inggris meminta gencatan senjata.

Kronologis

Kamis 25 Oktober 1945
Brigade 49 yang berkuatan 6.000 tentara berpengalaman tempur di wilayah Burma tiba di Surabaya melalui laut. Tentara yang sebagian besar merupakan orang Gurkha ini di bawah kendali Brigadir Jenderal AWS Mallaby tiba di Surabaya melalui laut. Brigade ini adalah bagian dari divisi India ke-2, di bawah pimpinan  Jenderal DC Hawthorn.

Tugas pasukan sekutu ini adalah melucuti tentara Jepang serta menyelamatkan tawanan sekutu yang ditawan Jepang. Netherlands Indies Civil Administration (NICA) ternyata ikut membonceng bersama rombongan tentara Inggris.
Pemerintah Jawa Timur melalui RMTA Suryo semula enggan menerima tentara sekutu. Apalagi tahu jika NICA ada di belakangnya. Ketegangan tersebut diredam dengan adanya kesepakatan yaitu :

    1). Inggris berjanji mengikutsertakan Angkatan Perang Belanda.
    2). Disetujui kerja sama kedua belah pihak untuk menjamin keamanan dan ketenteraman.
    3). Akan dibentuk kontak biro agar kerja sama berjalan lancar.
    4). Inggris hanya akan melucuti senjata Jepang.

Jumat 26 Oktober 1945
Kesepakatan tersebut dilanggar sendiri oleh Inggris. Jumat  26 Oktober 1945 pasukan sekutu melakukan penyergapan ke penjara Kalisosok. Mereka membebaskan para tawanan Belanda di antaranya adalah Kolonel Huiyer. Tindakan ini dilanjutkan dengan penyebaran pamflet yang berisi perintah agar rakyat Surabaya menyerahkan senjata-senjata mereka.

Rakyat Surabaya yang sudah waspada, tidak tinggal diam. Ancaman tersebut dijawab dengan serangan-serangan sporadis terhadap kedudukan sekutu di Surabaya pada keesokan harinya. Hari Sabtu 27 Oktober menjadi hari pertama kontak senjata antara tentara, rakat, laskar pejuang dengan tentara sekutu.

Para pejuang membuat strategi dengan menguasai objek-objek vital di Surabaya. Tank-tank sekutu dihadapi pejuang dengan berani. Mereka mengepung dan menghancurkan tentara Inggris kemudian melumpuhkan hubungan logistiknya.

Senin 29 Oktober 1945
Dalam kondisi tersebut, akhirnya Inggris menyerah. Atasan Brigjend Mallaby, Jendral DC Hawthorn meminta Presiden RI, Soekarno turun tangan untuk mendinginkan suasana. Tanggal 29 Oktober 1945 akhirnya diadakan perjanjian gencatan senjata kedua belah pihak.

Kedatangan Soekarno di Surabaya memang meredakan suasana, meski masih ada bentrokan-bentrokan kecil di sudut-sudut Kota Surabaya antara tentara sekutu dengan pejuang. Genjatan senjata itu hanyalah jeda sebentar saja dari pertempuran. Sehari kemudian terjadi peristiwa yang membuat Inggris marah, Brigjend Mallaby tewas dalam sebuah bentrok dengan pejuang pada Selasa 30 Oktober 1945.

Selanjutnya : Kronologis Tewasnya Sang Jendral

Baca Juga :

Pertempuran di Surabaya, JANGAN MUNDUR SELANGKAH !!

Seruan Resolusi Jihad NU

Tulis Komentar Anda