Jogja Garuk Sampah, Peduli Jogja Bukan Sekadar Tugas Sekolah

Jogja Garuk Sampah membersihkan tembok di kawasan Tugu Yogyakarta dari poster-poster. (Satriyo Wicaksono)

JOGJA (KRjogja.com) - Jogja garuk sampah, sebuah gerakan baru yang awalnya diinisiasi oleh anak-anak muda yang gemar bersepeda berhasil menjaring 1.600 relawan.

Gerakan ini dimulai sejak tahun 2015 dan dimulai dari kegelisahan akibat celetukan para wisatawan yang menyayangkan hilangnya keistimewaan Yogyakarta akibat terlalu banyak sampah. Gerakan ini awalnya hanya diikuti kurang dari 10 orang dan sempat diremehkan karena dikira hanya sebagai tugas sekolah.

Gerakan ini mencakup wilayah Sleman (Maguwoharjo dan sekitarnya), Kota Jogja, dan Bantul (kawasan Imogiri). Segala jenis sampah dibersihkan. Mulai dari sampah visual (poster), sampah di jalanan, hingga rerumputan. Sekali beraksi bisa mengumpulkan puluhan plastic bag bahkan pernah hingga 7 ton di daerah perumahan elit di Sleman.

Bekti Maulana saat membersihkan salah satu lokasi yang digunakan memasang spanduk (Satriyo Wicaksono)

"Masyarakat sekarang kebanyakan tidak tahu tentang aturan memasang poster padahal sudah ada dicatat di aturan tentang pariwara (iklan). Sebelum kita cabut posternya biasanya sudah kami kabari dulu tapi kebanyakan merasa tidak salah karena banyak poster lain di sekitar. Jadi mereka hanya tiru-tiru mayoritas," ujar Bekti Maulana (19) selaku salah satu penggagas Jogja Garuk Sampah saat ditemui di kawasan Tugu dan akan beraksi membersihkan daerah Pingit.

Harapannya semoga kedepannya masyarakat sadar aturan sehingga tidak berbuat seenaknya dan meresahkan warga. Karena sebuah kota yang bersih pasti akan membawa banyak keuntungan lainnya. (Mg-19)

Tulis Komentar Anda