Hiburan Editor : Agung Purwandono Jumat, 04 November 2016 / 04:20 WIB

Rahasia di Balik Blangkon

KETIKA berkunjung ke Yogyakarta dan beberapa daerah di Pulau Jawa, kita pasti tidak asing melihat fenomena orang yang memakai blangkon. Pernahkah anda bertanya kenapa mereka memakai blangkon? Kenapa harus blangkon dan bukan hiasan kepala yang lain?

Wagimin Darmo Yuwono (65) pembuat blangkon dari Wirobrajan, Yogyakarta menceritakan seluk beluk blangkon kepada krjogja.com. Selama lebih dari 40 tahun ia membuat blangkon yang kini berada di bawah naungan usaha 'Omah Blangkon dan Batik'

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Blangkon berasal dari kata blangko, istilah yang dipakai masyarakat Jawa untuk mengatakan sesuatu yang siap pakai. Dulunya blangkon tidak berbentuk bulat dan siap pakai,melainkan sama seperti ikat kepala lainnya yakni melalui proses pengikatan yang cukup rumit. Seiring berjalannya waktu, maka tercipta inovasi untuk membuat ikat kepala siap pakai yang selanjutnya dijuluki sebagai blangkon.

Beberapa jenis blangkon (Krjogja.com/Kurnia Putri Utomo)

Jika di perhatikan, bentuk blangkon  istimewa. Yakni lipatan melingkar menutupi kepala manusia,yang dibelakangnya terdapat bulatan atau yang sering disebut sebagai mondolan oleh masyarakat Jawa.

Bagian atau bentuk blangkon mengandung makna yang cukup dalam. Lipatan yang menutupi kepala berjumlah 17 lipatan menandakan 17 rakaat dalam salat lima waktu. Mondolan di pasang di belakang kepala dengan makna mencegah manusia dari tidur dan menutup mata.

Letak mondolan pun diusahakan di tengah dan lurus keatas, yakni bermakana lurus terhadap sang pencipta. Maka jika di tarik benang makna, mondolan merupakan pengingat agar manusia tidak menutup mata terhadap sang kuasa dan selalu lurus menjalankan perintahnya. Tidak hanya itu sisa kain di samping mondolan jika dihitung berjumlah 6 yang berarti 6 rukun iman dalam Islam.

Blangkon tampak samping (Kurnia Putri Utomo)

Kenapa makna blangkon cenderung Islamik? Bukankah identiknya dengan masyarakat Jawa? Hal ini konon berkaitan dengan sejarah awal mula blangkon dipakai. Sesepuh keluarga kraton Mataram yakni Ki Ageng Giring merupakan pencetus terciptanya blangkon.

Hal ini berkaitan dengan konteks zaman dahulu, ketika para penyebar Islam memasuki tanah Jawa. Saat itu rambut mereka panjang, sedangkan di budaya jawa, tiada lelaki yang berambut panjang. Para penyebar agama Islam ini juga enggan untuk memotong rambut karena beranggapan akan mengingkari sang kuasa dengan memotong rambut yang merupakan anugrah dari-Nya.

Maka dari itu tercetuslah solusi untuk menutup rambut dengan ikat kepala, yang seiring dengan perkembangan jaman ikat kepala ini berubah nama menjadi blangkon. Mondolan yang ada di blangkon ialah ikatan rambut para penyebar islam yang di gelung dibelakang membentuk bulatan.

Tidak semua blangkon memiliki bentuk mondolan bulat, blangkon dari Solo identik dengan mondolan  yang gepeng. Kenapa demikian? Hal ini dikarenakan ketika penganut agama islam memasuki Solo, rambut mereka telah di potong. Namun mereka tetap memakai ikat kepala atau blangkon karena telah membudaya. Hal inilah yang menyebabkan tiada mondolan bulat lagi, melainkan gepeng, karena tak ada rambut panjang yang mesti di gelung lagi. (Mg-16)