Kolom Magdalena Sukartono : Integritas: Udah Tahu, Ya ?

Magdalena Sukartono

KALI ini kita akan membahas tentang integritas, yang sering kita dengar tapi masih samar. Integritas bukan hanya perlu dimiliki seorang pemimpin, tetapi oleh kita semua jika ingin disebut bijak, terhormat, bermakna dan dikagumi.

Di kamus umum Bahasa Indonesia (WJS. Pierwadarminta - PN Balai Pustaka) dan juga Kamus Inggris - Indonesia (John M.Echols & Hassan Shadily - PT Gramedia) dikatakan, INTEGRITAS adalah ketulusan, kejujuran & keutuhan. 

Dengan istilah yang sederhana, bisa diterjemahkan dengan kata : keutuhan, pribadi yang utuh dilandasi kejujuran & ketulusan. John Maxwell pernah memberi contoh, kalau ingin mengetahui apakah kita memiliki integritas, perhatikan hal yang sepele. Jika kita menggunakan wc/toilet umum, apakah kita menyiram air seperti sebelum kita pakai ?

Para ahli karakter berpendapat bahwa untuk mengukur seberapa tinggi integritas kita, tanyakan pada hati nurani kita. Apakah kita cukup bersikap terbuka atau selalu ingin menyembunyikan kesalahan kita ?

Kalau ada masalah dengan orang lain, apakah kita membicarakannya dengan dia atau malah membicarakan tentang dia kepada orang lain? Apakah kita cepat mengakui kesalahan kita atau selalu mencari dalih untuk berkilah ? Apakah kita selalu berpedoman kepada moral / etika atau tergantung pada situasi saat itu ?

Nah.. cukup jelas, bukan ? Bagaimana punya integritas itu ?  Memiliki jati diri, berpegang pada moral/etika, berpijak pada kebenaran, ada ketulusan dan kejujuran dan tidak sebaliknya. 
Menurut Phillip Brooks, watak terbentuk pada saat tertentu dalam kehidupan kita. Sejak dini kita perlu berlatih melakukan kebiasaan yang baik. Mengembangkan menjadi integritas !

Ada seorang pemimpin perusahaan yang selalu memberi dorongan kepada timnya waktu memimpin meeting, mereka harus memiliki integritas tinggi ! Bersikap jujur dan berani mengakui kesalahannya. Sang Pemimpin ini dikenal sebagai atasan yang keras dan tegas.

Seluruh timnya tidak ada yang berani melawan pendapatnya. Sampai pada suatu hari kantor menjadi heboh. Mengapa ? Karena si Isteri Bos menemui Sekretaris sambil membawa celana dalam wanita yang masih baru. Setelah puas mencaci maki Sekretaris, Isteri Bos pun berlalu sambil mengucapkan sumpah serapah dan wajah penuh amarah. Uniknya, Sang Bos tampak bingung dan seolah tak berdaya. Lho koq ? Begitu pasti Anda bertanya. Iya, kan?

Akhirnya terkuak rahasia siapa yang memasukkan celdam ke dalam tas kerja Sang Bos. Ternyata salah seorang karyawan yang merasa muak karena selalu disalahkan dan dikatakan tak memiliki integritas. Karyawan itu mengundurkan diri sebelum kena sanksi atas perbuatannya membalas dendam.

Seorang yang memiliki integritas tinggi, tak akan begitu mudah menuduh, mengancam dan menekan orang lain termasuk anak buahnya. Menjadi pemimpin yang berintegritas harus bisa menjadi panutan dan mampu memotivasi. Bukan yang dibenci. 

Berintegritas tinggi mampu mengakui kelemahan dan kekurangannya, sekaligus mampu memberi siraman rohani kepada pihak lain sehingga dia bisa melakukan perubahan atas hidupnya. Memiliki jati diri yang berlandaskan kejujuran dan ketulusan itu ternyata tidak mudah. Berintegritas harus dilatih dan disiapkan sejak dini. Bagaimana dengan Pembaca ? INTEGRITAS : UDAH TAHU, YA?

Tulis Komentar Anda