Hiburan Editor : Agus Sigit Rabu, 29 Juni 2016 / 15:00 WIB

Tari Badui, Kesenian Religi Yang Masih Eksis di Jogja

SLEMAN (KRjogja.com) - Tari badui adalah tarian rakyat yang menggambarkan suatu adegan peperangan dari rombongan prajurit yang sedang melakukan suatu latihan perang. Seni tari badui masih eksis di tengah masyarakat Yogyakarta khususnya dikabupaten Sleman. Seperti yang dilestarikan warga padukuhan malangrejo, kecamatan ngemplak, Sleman dengan membentuk Paguyuban tari dan shalawat badui.

Konon dari cerita mulut ke mulut tarian religi ini berasal dari daerah kedu yang semula dibawa oleh seseorang dari tanah Arab. Kesenian ini dikemas sebagai alat dakwah agama Islam sekaligus tontonan yang eksotik bagi masyarakat.

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Paguyuban tari dan shalawat badui di malangrejo telah ada sejak beberapa generasi sebelumnya. Namun tidak diketahui resmi sejak kapan seni tari dan shalawat badui telah eksis didaerah ini.

Ahmadi selaku Ketua Paguyuban Tari dan Shalawat Badui menceritakan seni badui saat ini telah banyak mengalami perkembangan terutama di dalam lagu dan syairnya. Jumlah para penari pementasan kesenian badui juga tidak tentu. Umumnya sekitar 40 orang, dengan perincian 10 orang sebagai pemegang instrumen musik dan vokalis, sedangkan 30 orang sebagai penarinya.

"Instrumen yang dipergunakan adalah genderang tambur, terbang genjreng 3 buah dan satu jedor, kadang-kadang ditambah sebuah peluit yang berfungsi untuk memberi aba-aba," katanya kepada KRjogja.com belum lama ini.

Vokal disampaikan dalam bentuk lagu dan dibawakan secara bergantian antara penari dengan vokalis bersama dengan penabuh instrumen secara bersaut-sautan. Syair yang dibawakan biasanya diambil dari kitab kotijah badui, tetapi ada juga yang disusun sendiri. " Lag berisikan uraian tentang budi pekerti, kepahlawanan hingga sholawat Nabi.

"Tari ini biasanya dipentaskan pada malam hari, namun sering juga di pentaskan pada siang hari dengan durasi kurang lebih 4,5 jam. Ada kalanya pula tarian ini diselingi dengan pencak silat, bahkan pernah terjadi kerasukan saat pemain menari," tambahnya.

Ahmadi berharap ada sedikit sentuhan dari pemerintah agar kesenian ini terjaga kelestarian tengah derasnya pembangunan kabupaten Sleman, apalagi padukuhan malangrejo berada tepat dipersimpangan kokohnya bangunan beton. (Ngip)

<iframe width="500" height="375" src="https://www.youtube.com/embed/dYejcUQ8Gt8" frameborder="0" allowfullscreen></iframe>